KH. Imam Zarkasyi sebagai Pahlawan Nasional

November 11, 2014

KH. Imam Zarkasyi

Kalau Cak Nur disebut Guru bangsa, HNW disebut Moslem Negarawan, Pak Hasyim Disebut Cendikiawan Muslim, Cak Nun disebut budayawan Muslim, KH Abu Bakar Ba’asyir disebut Muassisu Al-Khilafah fi Indonesia, Alm KH Idham Khalid disebut peletak dasar Politik NU, Pak Din Syamsudin disebut pengajar Bangsa, KH. Hasyim Muzadi benteng Islam dari serangan liberalisasi, ….LALU APA SEBUTAN YANG PANTAS BAGI GURU MEREKA yg telah mengajarkan dan membuka wawasan mereka tentang dunia Islam??

Jika ada yg mengusulkan KH Imam Zarkasyi sebagai pahlawan nasional, saya akan tampil di barisan terdepan dalam mendukumgnya..


Takut Hidup Mati Saja

November 8, 2014

Mata ini terpekur sayu.

Memandang tanah kuburan di depan saya. Inilah makam Kyai saya. Makam pendiri Pondok Modern Gontor. Pesantren yang telah melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh penting di negeri ini. Beliau sudah wafat puluhan tahun yang lalu.

Tapi nasehat-nasehat beliau senantiasa terngiang di telinga ini seakan-akan beliau masih ada. Beliau masih mendampingi kami disini. Seakan-akan beliau turut hadir menyaksikan riuh rendah para santri yang menghafal pelajaran.

Menyaksikan ketegangan para santri yang sedang praktikum mengajar. Menyaksikan gelombang semangat para santri yang sedang berlatih pidato. Menyaksikan para santrinya berkreasi dalam seni dan berprestasi dalam olah raga. Meskipun beliau sudah tiada.
Tak terasa mata ini menetes. Membayangkan beliau meletakkan pondasi dasar pendidikan pesantren ini. Teringat kembali salah satu nasehat beliau yang terkenal sekali : BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI, TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA.

Sebuah filsafat kehidupan yang begitu tepat dan mengena. Sebuah simbol dari kerasnya perjuangan di masa lalu yang senantiasa berhadapan dengan kematian. Sebuah “fatwa” yang memantik semangat para santri untuk senantiasa berjuang dan berusaha maksimal dalam kehidupan, sebab dia selalu berada dibawah “ancaman” kematian yang sewaktu-waktu bisa saja datang menghampiri.

BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI. Sebab kematian adalah haq. Dia pasti akan datang menghampiri kepada siapapun yang bernama makhluk hidup. Maka hidup ini memang tidak lain dan tidak bukan hanyalah hamparan perjuangan untuk menggapai kematian yang Mulia. Dia sekedar mampir ngombe (numpang minum) kata orang jawa, dan bukan mampir wedangan (minum kopi). Kalau misalkan minum kopi itu ada santainya, ada ngobrolnya, ada acara nunggu hangatnya kopi dulu. Tapi ini numpang minum. Setelah dahaganya hilang, maka ya sudah selesai.

Sebentar sekali, sangat sebentar. Maka kesanggupan kita untuk mengarungi kehidupan ini, haruslah berbading lurus dengan kesiapan kita menghadapi kematian.

Kenapa kita harus lari dari kematian? Bukankah kemanapun kita pergi, kematian akan datang menghampiri jika waktunya tiba? Kesiapan kita-lah yang membuat kita berani menghadapinya. Kesiapan menghadapi kematian yang akan datang seaktu-waktu seharusnya bukanlah membuat kita duduk termenung dan atau memikirkan kapan datangnya kematian itu.

Justru karena kita tidak pernah tahu kapan datangnya kematian itu maka seharusnya kita lebih serius lagi bekerja dan beribadah. Lebih serius lagi menuntut ilmu. Lebih serius lagi berusaha. Lebih banyak lagi menolong orang dan tidak pernah mengeluh.

Sebab keluhan hanya datang dari orang yang kehilangan kepercayaan bahwasanya akan ada hari pembalasan dimana sedikit apapun amal perbuatan manusia akan ditampakkan. Orang yang punya keyakinan dan keimanan akan hal itu, sama sekali tidak pernah mengeluh kepada Allah. Karena dia yakin, bahwa apa yang dia perbuat selama ini tidak pernah luput dari perhatian Allah. Bahwa apapun yang diperbuat orang, kelicikan orang, kebohongan yang orang lakukan dihadapannya, tidak akan dapat terlepaskan begitu saja dari pandangan Allah. Dan masing-masing akan menerima balasannya. Maka oleh karena itu, kematian adalah pintu bagi seseorang itu untuk menembus hari pembalasan itu.Saya ingat sekali kata-kata Almarhum Guru Saya, KH Imam Badri dalam sebuah ceramah beliau :

“Jika ditanya orang berapa usia saya. Maka saya akan menjawabnya …saya baru saja berusia 65 tahun. Kenapa saya harus katakan demikian dan bukannya “Saya sudah berusia 65 tahun…” ?? Karena saya baru saja menikmati 65 tahun perjalanan panjang saya. Saya baru saja lahir di dunia ini, lalu kemudian akan mati menuju alam barzakh, lalu dikumpulakn di padang makhsyar, lalu masuk di hari pengadilan untuk dimasukkan ke syurga atau na’udzubillah ke neraka. Jadi masih panjang perjalanan saya ini…makanya saya jawab begitu…”

TAKUT MATI JANGAN HIDUP. Jika ketakutan akan kematian menjadi sebuah hal yang mengganggu anda, ya sebaiknya jangan hidup. Sebab hidup pasti mati. Karena sekali lagi bahwa kematian adalah pintu bagi kita untuk berpindah alam. Setiap makhluk hidup itu terdiri dari dua hal : Ruh dan Jasad. Hal ini sudah dibuktikan bahkan secara ilmiah, bukan sekedar doktrin keagamaan.

Di Amerika, sebuah organisasi ilmuwan menbuktikan hal itu. Bahwa sebelum manusia itu mati, maka berat badannya lebih berat beberapa Mili Gram dibandingkan ketika dia sudah meninggal. Ada yang hilang dari tubuhnya ketika dia mati. Itulah Ruh. Dan itulah sebenarnya inti dari kehidupan.

Ya, jasad tanpa ruh akan kehilangan harganya. Jasad tanpa ruh bahkan lebih hina dari patung manusia. Jika ada patung manusia yang mirip dengan aslinya, maka orang akan berfoto dengannya, membersihkannya, mengelapnya, merawatnya. Tapi jika sebuah jasad tanpa ruh terbujur kaku di pembaringan, maka jangankan mau berfoto, bahkan mendekat-pun, jika lebih dari dua hari orang sudah tidak akan mau. Bahkan Istri dan anak yang katanya cinta sehidup dan semati-pun, hanya akan mengantarnya sampai ke keburan, tidak ada yang mau ikut-ikutan masuk menemani si jasad tanpa ruh.

Maka sesungguhnya yang menggerakkan tubuh ini, yang memikirkan tubuh ini, yang mempercantik tubuh ini adalah Ruh. Maka perhatikanlah “makanan” ruhani ini. Sebab ruh-lah yang mengatur senang atau susahnya hati ini. Karena Ruh-lah kunci segala ketenteraman yang ada. Sebab Ruh-lah yang mengunci segala keberanian dan menjadikannya kekuatan. Jika Ruh ini kuat, maka kekuatan batin dan kedahsyatan fikiran akan membuat semuanya menjadi nyata. Konsep “The Secret” yang digagas oleh Rhonda Byrne telah membuktikannya. Bahwa hanya dengan modal keyakinan yang utuh dan kekal saja, maka semua mimpi yang kita bayangkan akan menjadi nyata. Nah, jika memang Ruh adalah kunci dari semua kebahagiaan yang ingin kita rengkuh, maka berilah “makanan” yang bergizi kepada Ruh ini. Kedekatan kepada Tuhan, seringnya bercengerama dengan Tuhan, menyebut-nyebut selalu asma-Nya disetiap kesempatan adalah makanan bergizi itu. Bersyukur, berharap, berdoa, memohon, mengadu kepada-Nya atas segala persoalan dan tantangan adalah “jajan” dari Ruh. Meninggalkan semua yang dilarang, menjauhi apa yang Tuhan benci adalah salah satu cara menghindar dari “bebal”-nya Ruh yang kita miliki ini. Maka sungguh, kekuatan Ruhani-lah yang membuat kita tidak terbebani beban kehidupan. Untuk berani mengatakan bahwa saya siap untuk mati, karena kematian tidaklah mematikan Ruh, tapi sekedar memindahkan Ruh dari jasad.

TAKUT HIDUP, MATI SAJA. Ini adalah kategori terhina dari dua golongan sebelumnya. Bayangkan saja, jangankan membayangkan kematian, bahkan hidup dan mengisinya dengan kebaikan saja dia ketakutan. Padahal Allah sudah membekalinya dengan bekal yang teramat cukup untuk mengarungi kehidupan ini. Jasad yang sehat, akal yang sempurna, anggota tubuh yang komplit, rekan hidup yang baik, dan nama yang baik pula, belum tercemar namanya. Sungguh hanya kemiskinan ruhani saja yang membuatnya terbebani dengan semua beban kehidupan ini. Bahkan saking miskinnya, dia tidak lagi memikirkan pertanggung jawaban semua bekal yang Allah sudah berikan kepadanya untuk mengarungi kehidupan, dan memilih untuk mengakhirinya. Ini adalah Golongan orang-orang tercela, yang bahkan kita dilarang menyolatkan jenazah orang yang matinya karena bunuh diri. Karena dia adalah orang yang menyerah oleh keadaan, orang yang angkat tangan sebelum perang, orang yang mendendangkan irama kematian sebelum kehidupan dia jalani. Sungguh hina, sungguh tercela.
….

Saya tak habis-habis menangis di makam ini. Betapa para pendiri pesantren ini, dengan dilandasi jiwa yang ikhlas dan peluh yang bercucuran telah berjibaku dengan sejarah. Kemudian telah mengemasnya menjadi sedemikian cantik untuk dikenang sebagai sebuah ladang perjuangan. Sebuah medan juang yang telah mereka kelola dengan satu tujuan luhur : membina umat untuk senantiasa berani hidup dan siaga mempertahankan agama Allah. Ya, Agama ini akan selalu dan senantiasa, perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan.

Wallahu a’lam


Pak Sahal, Madzhab Gontor

September 21, 2014

Jika seandainya Kyai Gontor itu seorang NU, Guru-gurunya juga NU, dan para santri-santrinya juga NU, tapi Gontor tidak boleh jadi NU…atau sebaliknya, jika Kyai Gontor, guru dan santrinya semuanya Muhammadiyah, tapi Gontor tidak boleh jadi Muhammadiyah..INI SAKRAL..INI WASIAT..INI WASIAT…

Dulu jaman orde lama pas pemilu Gontor yang menang masyumi, tapi Gontor tidak pernah dan tidak boleh jadi Masyumi..zaman orde baru yang menang PPP, tapi Gontor juga tidak pernah dan tidak boleh jadi PPP, sekarang juga begitu, mau yang menang PKS, banyak alumninya di PKS, jika sekalipun Kyai, Guru, dan santrinya PKS, tapi Gontor bukan dan tidak boleh jadi PKS..!!! Ikutilah kebenaran, dan jangan ikuti orang yang benar….Jadi Gontor harus tetap jadi perekat umat, diatas dan untuk semua Golongan….”

-KH Hasan Abd Sahal-


Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal

September 14, 2014

1. Tidak ada pekerjaan di dunia ini yang tidak ada hubungannya dengan akhirat. Menangis ada hubungannya dengan akhirat, tertawa, menyanyi, dan semuanya ada tanggungjawabnya di akhirat. Akan ditanya menangismu untuk apa? Tertawamu sebabnya apa? Menyanyimu landasannya apa? Al insaanu hayawanun mas’ul. Hanya debu yang tidak dimintai pertanggunjawaban di akhirat. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya berkewajiban sama. Sebab manusia sudah menyatakan mampu untuk menjaga amanah menjadi khalifah di muka bumi ini. Maka tidak ada dikotomi pekerjaan dunia dan akhirat. Waspada! Disinilah syetan dan iblis akan memulai langkah pertamanya!

2. Lembaga pendidikan pesantren akan dirusak, disikat, dihancurkan dengan kebarat-baratan, sistematis, logis, egois, hewanis. Lembaga pesantren berjiwa modern. Modern pola pikirnya, modern semangatnya, modern orientasinya, modern pemimpinnya. Siap memimpin dan siap di pimpin. Karena tujuannya sama munzirul qoum. Maka terus berusaha untuk terus menjadi baik karena itu adalah kewajiban. Tapi merasa lebih baik itu adalah penyakit. Bedakan!

3. pertinggilah filsafat hidupmu. Jangan hidup seperti orang lain! Kalau kamu hidup hanya untuk melakukan pekerjaan yang sudah dilakukan pendahulumu, lebih baik kamu tidak usah lahir ke dunia ini! Dan yang sudah hidup tidak perlu mati! Itulah yang disebut jiwa!

4. Pesantren terus maju karena terus bergerak. Pergerakan membawa banyak barokah dan pelajaran. Penuh dengan barokatologi. Berhenti dari pergerakan berarti diam, mati, tidak ada aktifitas, tidak ada barokah. Pesantren tidak bisa dipimpin oleh orang yang cerdas, pinter, dan kaya saja. Pesantren hanya bisa dipimpin oleh orang yang mau bergerak. Cerdas bergerak, pinter bergerak, kaya bergerak hasilnya dahsyat! Ini yang ditakuti musuh Islam. Lihat! Banyak orang Islam yang cerdas, pinter dan kaya dihentikan dan dibatasi pergerakannya dengan jabatan.


Arsitektur Tata Bangunan Gontor

September 11, 2014

Ketika saya di Aceh untuk melakukan pencarian tanah untuk pembangunan Gontor 10, ada dua tanah yang masuk pencarian kami (saya, Ust Jarman, Ust Nursyahid, dan Alm Ust Arifin).

Tanah yang pertama datar, landai, mirip struktur tanah Gontor Puteri Mantingan, yang akhirnya dibeli Gontor untuk cabang yang ke 10.

Tanah yang kedua konturnya tinggi rendah tapi dipegunungan, dekat sekolah kepolisian dan Politeknik di daerah situ. Susasananya Indah sekali, saya fikir ini akan cocok untuk pembangunan pesantren, meski mungkin bentuknya agak unik, jadi Rayonnya (asramanya) tidak lagi per bangunan, tapi mungkin per Blok. Soalnya konturnya indah sekali, mirip-mirip situasi di Gontor VI magelang menurut saya. Apalagi yang punya tanah Cuma menghargai tanahnya dengan dua tiket Haji Plus, murah sekali.

Ketika hal itu saya sampaikan ke Ust Nursyahid sebagai penanggung jawab pembangunan di Gontor,beliau menjawab dengan tegas :

“Kita itu sedang membangun pesantren Ust, bukan Hotel. Tanah yang antum bilang menarik tadi itu, mahal sekali pembangunannya, karena bentuk tanahnya yang naik turun tidak rata itu. Kita ini pesantren yang punya system, nah system itu meliputi semuanya, termasuk pembangunan Asrama. Sistem Mudabbir (pengasuh asrama yang diisi anak kelas Lima) di Gontor itu hanya bisa efektif dengan penggunaan minimum 3 kamar dalam satu asrama. Kalau dibawah itu, misalkan kita buat satu atau dua kamar dan dibikin Asrama itu per Blok, justru itu akan membuat Bahaya, karena sedikit anggota dengan Mudabbir itu justru akan membuat suasana tidak kondusif. Dan lagi, pak Kyai menghendaki Masjid di Gontor itu diletakkan di arah paling barat, maka antum bisa lihat di Gontor dan Gontor Cabang itu Masjid pasti diletakkan sebagai bangunan paling dominan di sebelah Barat. Ini biar Para santri yang beribadah itu Fokus, tidak terganggu oleh aktifitas lain selain peribadatan. Nah, di tanah itu susah sekali kalau mau mendirikan masjid di sebelah barat, karena tekstur tanah di Arah barat naik turunnya terlalu parah. Itulah ust, Gontor menciptakan system yang itu harus di dukung juga dengan bangunan yang didirikannya…..”

Satu lagi ilmu yang saya dapatkan dari Gontor, Arsitektur Gontory…


Menjadi Istri Guru GOntor itu berat

September 8, 2014

“Gontor itu sudah puluhan tahun berdiri dan menerapkan kaderisasi. Dulu susah sekali menemukan kader di Gontor ini. Karena Gontor memang berprisnip Berjuang, to Give, sampai mati. Kesejahteraan itu diperhatikan, tapi bukan tujuan utama. Nah, sekarang ini Alhamdulillah Gontor sudah maju,kesejahteraan Guru meningkat, maka berbondong-bondonglah orang yang mau jadi kader. Saya takutnya mereka melihat kepada kesejahteraannya, bukan pada perjuangannnya, bukan kepada proses To Give-nya, bukan kepada proses tanpa pamrihnya. Semoga saja dugaan saya ini salah 100%. Maka itu, Gontor punya cara tersendiri, punya ciri tersendiri untuk mengatur kader. Maka diaturlah bahwa kader itu harus 100% tunduk kepada pimpinan dan pengasuh Gontor, tanpa reserve. Sampai “milih bojo” sekalipun, harus sepersetujuan pimpinan. Saya masih ingat pak sahal bertanya setengah menyindir : “Dadi bojone Kader kuwi abot, lha kuwi arep ngrewangi opo arep Ngrusuhi??” (Jadi istri kader itu berat, itu mau membantu atau merusak?). Jadi aturan ini dibuat berdasarkan pengalaman Gontor, bukan pengalaman baru kemarin sore, tapi pengalaman yang sudah bertahun-tahun….”

(KH Hasan Abd Sahal, ketika penanda tanganan Kader)

Demi Allah, ini berat sekali. Saya merasakan berat sekali. Dan saya tidak sanggup menanggungnya, Astaghfirullah….Semoga teman-temanku yang memilih berjuang sebagai kader di Gontor bisa Istiqomah, berjuang, ikhlas, lillah…Gontor memang terlalu besar untuk debu kecil dan kotor seperti saya..Semoga saya bisa lebih memperbaiki diri lagi ketika diluar seperti sekarang ini…


Bebas Finansial Ala Rasulullah

September 8, 2014

Kawan.., alkisah disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang dengan langkah gontai datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

Semoga Bermanfaat..


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.621 pengikut lainnya