Kisah Meninggalnya KH. Uzairon Temboro

Agustus 29, 2014

Hari senin, 21 Juli 2014 bertepatan dengan 23 Ramadhan 1435 H. Setelah 1 bulan lebih akhirnya saya baru memiliki keberanian menulis kronologi wafatnya beliau. Sebelumnya saya masih shock dengan kepergian beliau dari dunia ini.

Senin petang selepas bayan/ceramah bakda Ashar. Beliau masih memimpin musyawarah bersama para ustadz senior dan sesepuh dakwah yang mengurus kegiatan Masjid Markaz.

…..

artikel ini telah dipindahkan ke blog khusus Kabar Dakwah Temboro silahkan klik disini (dakwahtemboro.wordpress.com)


Gontor, Selalu Berusaha Lebih Baik.

Agustus 26, 2014

image

Setelah 10 tahun, akhirnya saya menguatkan hati untuk menelusuri lorong-lorong Gontor dengan jalan kaki. Terlalu banyak kenangan dan entah apakah saya yg mudah terharu ini mampu menahan tiap ledakan kenangan indah.

Dari tahun ke tahun Gontor selalu berubah lebih baik. Bukan sekedar fasilitas fisik, kurikulum ataupun ustad-ustadznya yg sekarang rata rata hafidz Quran. Tapi juga semangat para santrinya yg tetap dan bertambah luar biasa dan antusias bahkan saya rasakan melebihi zaman saya dulu.
image

Saya merasa bahwa 90-100% santri saat ini masuk Gontor karena memang keinginan hati mereka. Bukan karena paksaan orang tua atau karena enggak sengaja seperti saya dulu.

Sehingga mereka begitu antusias ikhlas dan semangat mengikuti ritme kehidupan Gontor yang ketat, keras dan cepat. Hal tersebut menyebabkan hal hal buruk yg diwariskan para senior seperti kami bisa dieliminasi bahkan dihapus tuntas.
image

Ambil contoh seperti disiplin. Zaman “orde baru” dulu, disiplin ditegakkan dengan ancaman hukuman fisik yang bahkan kasarnya melebihi stpdn. Tapi sekarang mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran dan antusias. Hukumanya cukup diberdirikan saja.

Hal positif lainya adalah soal rokok. Rokok sekarang sudah menjadi barang “haram”. Tahun 2003 saat mengambil ijazah, saya masih bisa dan menemui para penikmat rokok di seputaran masjid Pusaka dan pendopo yang memang tempat favorit ahli hisap.
There always better generation at Gontor.

Langkah saya terhenti sejenak di hadapan tulisan ini. Teringat almarhum guru yang telah meninggal. Walau ratusan guru terbaik Gontor telah wafat, semoga Allah terus melimpahkan guru guru pengganti yang lebih baik. Patah tumbuh, hilang berganti.
image


Kebersihan di Gontor

Juni 3, 2014

image

Ini lah Gontor, kampung damai itu. Ini adalah suasana keseharian, bukan dibuat-buat ketika mau difoto lalu dibersihkan dulu, ditata, diperbaiki, lalu setelah selesai foto berantakan lagi.
Baca entri selengkapnya »


Naehat wanita Pak Hasan

Juni 1, 2014

“Kalau di uji dengan harta, maka Insya Allah anak-anakku sudah seiap menghadapinya, karena di sini kalian sudah diajarkan bagaimana berkerja dan beramal dengan penuh keikhlasan itu. Kalau di Uji dengan Tahta, Insya Allah anak-anakku sudah siap menghadapinya. Karena di Gontor sudah dilatih dan dibina di organisasi, di naikkan, diturunkan,
Baca entri selengkapnya »


Suasana Ujian di Gontor

Mei 31, 2014

ujian di gontor

Ini saat liburan menjelang Ujian di Gontor. Liburan betul-betul untuk belajar. Para santri belajar di luar kelas, dengan Guru-guru bekeliling seantero kampus untuk menjawab pertanyaan tentang pelajaran yang belum difahami santri. Yup, Gontor menyebutnya sebagai PESTA, karena ini lah saatnya pengetahuan santri itu diuji, apa sudah layak naik tingkat atau belum…

“….bahkan ada yang sakit kepala dan demam, jadi sembuh karena belajar habis-habisan….” (KH Imam Badri)


Jumat Gontor Lama

Mei 21, 2014

1231562_582067088517050_800382270_n

ini adalah suasana Sholat Jumat di Pondok Modern Gontor di tahun 1970-an. Sederhana sekali, masjid jami’ belum ada, dan sholat Jumat dilangsungkan di masjid Pusaka dan gedung Madrasah (sekarang gedung ADM). Dulu yang menjadi Imam Sholat Jumat adalah KH Rahmat Soekarto, kakak tertua trimurti, sampai kemudian beliau meninggal digantikan oleh KH Ahmad Sahal. Jamaahnya meluber sampai dengan Pendopo. Baca entri selengkapnya »


Gontor diserbu PKI tahun 1948

Januari 30, 2014

Gontor 1948…Ketika meletus pemberontakan PKI di Madiun, Gontor yang cuma berjarak 30 KM dari Madiun terkena dampaknya. Banyak para santri yang tidak mendapat kiriman uang dari orang tuanya, sehingga para Kyai harus berkorban.

Ibu Sutikah (Istri KH Ahmad Sahal) haruslah menjual perhiasan emasnya untuk biaya hidup para santri. Ibu Zarkasyi bahkan harus menjual satu2nya mesin jahit yang beliau miliki untuk perjuangan.

Tapi apa daya, PKI dan kekuatannya telah sampai di Ponorogo. Maka diaturlah perjalanan Hijrah ini atas inisiatif para santri. Pak Sahal dan Pak Zarkasyi akan di ungsikan ke timur, ke arah Gua Kusumo (di daerah Suren, saat ini) beserta keluarganya. Sedangkan pondok akan dijaga oleh KH Rahmat Soekarto, sebagai kakak tertua sekaligus lurah di Desa Gontor, dan beberapa orang santri yang menyamar jadi pak Zar dan Mbah Sahal. Baca entri selengkapnya »