Takut Hidup Mati Saja

Mata ini terpekur sayu.

Memandang tanah kuburan di depan saya. Inilah makam Kyai saya. Makam pendiri Pondok Modern Gontor. Pesantren yang telah melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh penting di negeri ini. Beliau sudah wafat puluhan tahun yang lalu.

Tapi nasehat-nasehat beliau senantiasa terngiang di telinga ini seakan-akan beliau masih ada. Beliau masih mendampingi kami disini. Seakan-akan beliau turut hadir menyaksikan riuh rendah para santri yang menghafal pelajaran.

Menyaksikan ketegangan para santri yang sedang praktikum mengajar. Menyaksikan gelombang semangat para santri yang sedang berlatih pidato. Menyaksikan para santrinya berkreasi dalam seni dan berprestasi dalam olah raga. Meskipun beliau sudah tiada.
Tak terasa mata ini menetes. Membayangkan beliau meletakkan pondasi dasar pendidikan pesantren ini. Teringat kembali salah satu nasehat beliau yang terkenal sekali : BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI, TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA.

Sebuah filsafat kehidupan yang begitu tepat dan mengena. Sebuah simbol dari kerasnya perjuangan di masa lalu yang senantiasa berhadapan dengan kematian. Sebuah “fatwa” yang memantik semangat para santri untuk senantiasa berjuang dan berusaha maksimal dalam kehidupan, sebab dia selalu berada dibawah “ancaman” kematian yang sewaktu-waktu bisa saja datang menghampiri.

BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI. Sebab kematian adalah haq. Dia pasti akan datang menghampiri kepada siapapun yang bernama makhluk hidup. Maka hidup ini memang tidak lain dan tidak bukan hanyalah hamparan perjuangan untuk menggapai kematian yang Mulia. Dia sekedar mampir ngombe (numpang minum) kata orang jawa, dan bukan mampir wedangan (minum kopi). Kalau misalkan minum kopi itu ada santainya, ada ngobrolnya, ada acara nunggu hangatnya kopi dulu. Tapi ini numpang minum. Setelah dahaganya hilang, maka ya sudah selesai.

Sebentar sekali, sangat sebentar. Maka kesanggupan kita untuk mengarungi kehidupan ini, haruslah berbading lurus dengan kesiapan kita menghadapi kematian.

Kenapa kita harus lari dari kematian? Bukankah kemanapun kita pergi, kematian akan datang menghampiri jika waktunya tiba? Kesiapan kita-lah yang membuat kita berani menghadapinya. Kesiapan menghadapi kematian yang akan datang seaktu-waktu seharusnya bukanlah membuat kita duduk termenung dan atau memikirkan kapan datangnya kematian itu.

Justru karena kita tidak pernah tahu kapan datangnya kematian itu maka seharusnya kita lebih serius lagi bekerja dan beribadah. Lebih serius lagi menuntut ilmu. Lebih serius lagi berusaha. Lebih banyak lagi menolong orang dan tidak pernah mengeluh.

Sebab keluhan hanya datang dari orang yang kehilangan kepercayaan bahwasanya akan ada hari pembalasan dimana sedikit apapun amal perbuatan manusia akan ditampakkan. Orang yang punya keyakinan dan keimanan akan hal itu, sama sekali tidak pernah mengeluh kepada Allah. Karena dia yakin, bahwa apa yang dia perbuat selama ini tidak pernah luput dari perhatian Allah. Bahwa apapun yang diperbuat orang, kelicikan orang, kebohongan yang orang lakukan dihadapannya, tidak akan dapat terlepaskan begitu saja dari pandangan Allah. Dan masing-masing akan menerima balasannya. Maka oleh karena itu, kematian adalah pintu bagi seseorang itu untuk menembus hari pembalasan itu.Saya ingat sekali kata-kata Almarhum Guru Saya, KH Imam Badri dalam sebuah ceramah beliau :

“Jika ditanya orang berapa usia saya. Maka saya akan menjawabnya …saya baru saja berusia 65 tahun. Kenapa saya harus katakan demikian dan bukannya “Saya sudah berusia 65 tahun…” ?? Karena saya baru saja menikmati 65 tahun perjalanan panjang saya. Saya baru saja lahir di dunia ini, lalu kemudian akan mati menuju alam barzakh, lalu dikumpulakn di padang makhsyar, lalu masuk di hari pengadilan untuk dimasukkan ke syurga atau na’udzubillah ke neraka. Jadi masih panjang perjalanan saya ini…makanya saya jawab begitu…”

TAKUT MATI JANGAN HIDUP. Jika ketakutan akan kematian menjadi sebuah hal yang mengganggu anda, ya sebaiknya jangan hidup. Sebab hidup pasti mati. Karena sekali lagi bahwa kematian adalah pintu bagi kita untuk berpindah alam. Setiap makhluk hidup itu terdiri dari dua hal : Ruh dan Jasad. Hal ini sudah dibuktikan bahkan secara ilmiah, bukan sekedar doktrin keagamaan.

Di Amerika, sebuah organisasi ilmuwan menbuktikan hal itu. Bahwa sebelum manusia itu mati, maka berat badannya lebih berat beberapa Mili Gram dibandingkan ketika dia sudah meninggal. Ada yang hilang dari tubuhnya ketika dia mati. Itulah Ruh. Dan itulah sebenarnya inti dari kehidupan.

Ya, jasad tanpa ruh akan kehilangan harganya. Jasad tanpa ruh bahkan lebih hina dari patung manusia. Jika ada patung manusia yang mirip dengan aslinya, maka orang akan berfoto dengannya, membersihkannya, mengelapnya, merawatnya. Tapi jika sebuah jasad tanpa ruh terbujur kaku di pembaringan, maka jangankan mau berfoto, bahkan mendekat-pun, jika lebih dari dua hari orang sudah tidak akan mau. Bahkan Istri dan anak yang katanya cinta sehidup dan semati-pun, hanya akan mengantarnya sampai ke keburan, tidak ada yang mau ikut-ikutan masuk menemani si jasad tanpa ruh.

Maka sesungguhnya yang menggerakkan tubuh ini, yang memikirkan tubuh ini, yang mempercantik tubuh ini adalah Ruh. Maka perhatikanlah “makanan” ruhani ini. Sebab ruh-lah yang mengatur senang atau susahnya hati ini. Karena Ruh-lah kunci segala ketenteraman yang ada. Sebab Ruh-lah yang mengunci segala keberanian dan menjadikannya kekuatan. Jika Ruh ini kuat, maka kekuatan batin dan kedahsyatan fikiran akan membuat semuanya menjadi nyata. Konsep “The Secret” yang digagas oleh Rhonda Byrne telah membuktikannya. Bahwa hanya dengan modal keyakinan yang utuh dan kekal saja, maka semua mimpi yang kita bayangkan akan menjadi nyata. Nah, jika memang Ruh adalah kunci dari semua kebahagiaan yang ingin kita rengkuh, maka berilah “makanan” yang bergizi kepada Ruh ini. Kedekatan kepada Tuhan, seringnya bercengerama dengan Tuhan, menyebut-nyebut selalu asma-Nya disetiap kesempatan adalah makanan bergizi itu. Bersyukur, berharap, berdoa, memohon, mengadu kepada-Nya atas segala persoalan dan tantangan adalah “jajan” dari Ruh. Meninggalkan semua yang dilarang, menjauhi apa yang Tuhan benci adalah salah satu cara menghindar dari “bebal”-nya Ruh yang kita miliki ini. Maka sungguh, kekuatan Ruhani-lah yang membuat kita tidak terbebani beban kehidupan. Untuk berani mengatakan bahwa saya siap untuk mati, karena kematian tidaklah mematikan Ruh, tapi sekedar memindahkan Ruh dari jasad.

TAKUT HIDUP, MATI SAJA. Ini adalah kategori terhina dari dua golongan sebelumnya. Bayangkan saja, jangankan membayangkan kematian, bahkan hidup dan mengisinya dengan kebaikan saja dia ketakutan. Padahal Allah sudah membekalinya dengan bekal yang teramat cukup untuk mengarungi kehidupan ini. Jasad yang sehat, akal yang sempurna, anggota tubuh yang komplit, rekan hidup yang baik, dan nama yang baik pula, belum tercemar namanya. Sungguh hanya kemiskinan ruhani saja yang membuatnya terbebani dengan semua beban kehidupan ini. Bahkan saking miskinnya, dia tidak lagi memikirkan pertanggung jawaban semua bekal yang Allah sudah berikan kepadanya untuk mengarungi kehidupan, dan memilih untuk mengakhirinya. Ini adalah Golongan orang-orang tercela, yang bahkan kita dilarang menyolatkan jenazah orang yang matinya karena bunuh diri. Karena dia adalah orang yang menyerah oleh keadaan, orang yang angkat tangan sebelum perang, orang yang mendendangkan irama kematian sebelum kehidupan dia jalani. Sungguh hina, sungguh tercela.
….

Saya tak habis-habis menangis di makam ini. Betapa para pendiri pesantren ini, dengan dilandasi jiwa yang ikhlas dan peluh yang bercucuran telah berjibaku dengan sejarah. Kemudian telah mengemasnya menjadi sedemikian cantik untuk dikenang sebagai sebuah ladang perjuangan. Sebuah medan juang yang telah mereka kelola dengan satu tujuan luhur : membina umat untuk senantiasa berani hidup dan siaga mempertahankan agama Allah. Ya, Agama ini akan selalu dan senantiasa, perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan.

Wallahu a’lam

Satu Balasan ke Takut Hidup Mati Saja

  1. deny mengatakan:

    Syukran Pak Kyai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: