Bebas Finansial Ala Rasulullah

September 8, 2014

Kawan.., alkisah disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang dengan langkah gontai datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

Semoga Bermanfaat..

Iklan

Kisah Meninggalnya KH. Uzairon Temboro

Agustus 29, 2014

Hari senin, 21 Juli 2014 bertepatan dengan 23 Ramadhan 1435 H. Setelah 1 bulan lebih akhirnya saya baru memiliki keberanian menulis kronologi wafatnya beliau. Sebelumnya saya masih shock dengan kepergian beliau dari dunia ini.

Senin petang selepas bayan/ceramah bakda Ashar. Beliau masih memimpin musyawarah bersama para ustadz senior dan sesepuh dakwah yang mengurus kegiatan Masjid Markaz.

…..

artikel ini telah dipindahkan ke blog khusus Kabar Dakwah Temboro silahkan klik disini (dakwahtemboro.wordpress.com)


Naehat wanita Pak Hasan

Juni 1, 2014

“Kalau di uji dengan harta, maka Insya Allah anak-anakku sudah seiap menghadapinya, karena di sini kalian sudah diajarkan bagaimana berkerja dan beramal dengan penuh keikhlasan itu. Kalau di Uji dengan Tahta, Insya Allah anak-anakku sudah siap menghadapinya. Karena di Gontor sudah dilatih dan dibina di organisasi, di naikkan, diturunkan,
Baca entri selengkapnya »


Pak Syukri dan Pak Hasan, dwitunggal penyuplai energi tanpa henti

Januari 13, 2014

pak hasan dan pak syukri1Tahun 1997 saat masih jadi santri baru dan tinggal di gedung sighor baru yang bersebelahan dengan rumah pimpinan. Saya mendengar dan melihat ada huru hara fitnah yang menguji ikatan dwitunggal dua sosok manusia luar biasa ini.

Suasana belajar malam ujian tengah semester yang mencekam semakin menakutkan, karena pondok memberlakukan status untuk menangkal fitnah dari selebaran yang ditulis oleh orang tak bertanggung jawab. Baca entri selengkapnya »


Menjaga Sholat Subuh Berjamaah Itu Penting

Januari 5, 2014

abdullah-syukri-zarkasyi“Bila kamu terlambat sholat subuh secara berjamaah, maka kamu juga akan terlambat mendatangi sholat wajib lainya secara berjamaah”

Selepas subuh di bulan Ramadhan di akhir millenium baru, tahun 2000.  Ribuan pasang mata santri kelas lima yang memang tidak diizinkan pulang selama liburan ramadhan berusaha keras menahan kantuk selepas sholat subuh.

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakutuhu.
Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakutuh.

Sebuah salam yang khas dan menggelora menyentakkan ratusan kepala yang sedang menahan kantuk. Tak ada yang menyangka bila kultum hari ini akan diisi langsung oleh KH. Abdullah Syukri.

Sebuah kejutan, surprise dan tentunya letupan ribuan semangat yang tiba-tiba menyengat layaknya aliran listrik. Baca entri selengkapnya »


Wasiat KH. Abdullah Sahal

November 14, 2012

Wasiat ini pernah saya baca ketika menjadi pengurus perpustakaan OPPM ketika duduk kelas 5-2000. Terus terngiang selama saya belajar di Perguruan Tinggi, menjadi TKI di  Qatar sampai kemudian terlupa karena terlena sibuk mengurus toko kelontong.

SubhanAllah, Allahu Akbar … di era FB tiba-tiba mendapat postingan nasehat ini lagi, seperti mendapat tetesan kesegaran yang luar biasa.

Berikut nasehat beliau yang super sekali:

Wasiat Pak Sahal
Saya berbicara kali ini betul-betul dengan ihlas. Hanya akan saya ambil sedikit-sedikit, dan singkatnya, atau pucuknya saja. Semua yang akan saya sampaikan ini bahkan sedikitnya direkam dan rekaman ini nanti mudah dijadikan buku dan dapat dibaca oleh seluruh umat, sampai sampai pada anak cucu saya sendiri dan anak-anaku sekalian yang ada. Baca entri selengkapnya »

HARAPAN TERPENDAM SEORANG BAPAK

April 5, 2009

Dua “sejoli” itu kembali mengitari alun-alun kidul, masih tetap berpelukan dengan berjalan pelan, menikmati udara pagi Jogja. Cinta kasih di antara mereka, membuat mereka tidak memperdulikan nafas terengah-engah dari pelari-pelari pagi yang hilir mudik menyalip mereka.

Mereka yang tidak peduli, ataukah pelari-pelari itu yang sinis dengan kemesraan mereka?, tak ada yang tahu isi hati.
Baca entri selengkapnya »