Arsitektur Tata Bangunan Gontor

September 11, 2014

Ketika saya di Aceh untuk melakukan pencarian tanah untuk pembangunan Gontor 10, ada dua tanah yang masuk pencarian kami (saya, Ust Jarman, Ust Nursyahid, dan Alm Ust Arifin).

Tanah yang pertama datar, landai, mirip struktur tanah Gontor Puteri Mantingan, yang akhirnya dibeli Gontor untuk cabang yang ke 10.

Tanah yang kedua konturnya tinggi rendah tapi dipegunungan, dekat sekolah kepolisian dan Politeknik di daerah situ. Susasananya Indah sekali, saya fikir ini akan cocok untuk pembangunan pesantren, meski mungkin bentuknya agak unik, jadi Rayonnya (asramanya) tidak lagi per bangunan, tapi mungkin per Blok. Soalnya konturnya indah sekali, mirip-mirip situasi di Gontor VI magelang menurut saya. Apalagi yang punya tanah Cuma menghargai tanahnya dengan dua tiket Haji Plus, murah sekali.

Ketika hal itu saya sampaikan ke Ust Nursyahid sebagai penanggung jawab pembangunan di Gontor,beliau menjawab dengan tegas :

“Kita itu sedang membangun pesantren Ust, bukan Hotel. Tanah yang antum bilang menarik tadi itu, mahal sekali pembangunannya, karena bentuk tanahnya yang naik turun tidak rata itu. Kita ini pesantren yang punya system, nah system itu meliputi semuanya, termasuk pembangunan Asrama. Sistem Mudabbir (pengasuh asrama yang diisi anak kelas Lima) di Gontor itu hanya bisa efektif dengan penggunaan minimum 3 kamar dalam satu asrama. Kalau dibawah itu, misalkan kita buat satu atau dua kamar dan dibikin Asrama itu per Blok, justru itu akan membuat Bahaya, karena sedikit anggota dengan Mudabbir itu justru akan membuat suasana tidak kondusif. Dan lagi, pak Kyai menghendaki Masjid di Gontor itu diletakkan di arah paling barat, maka antum bisa lihat di Gontor dan Gontor Cabang itu Masjid pasti diletakkan sebagai bangunan paling dominan di sebelah Barat. Ini biar Para santri yang beribadah itu Fokus, tidak terganggu oleh aktifitas lain selain peribadatan. Nah, di tanah itu susah sekali kalau mau mendirikan masjid di sebelah barat, karena tekstur tanah di Arah barat naik turunnya terlalu parah. Itulah ust, Gontor menciptakan system yang itu harus di dukung juga dengan bangunan yang didirikannya…..”

Satu lagi ilmu yang saya dapatkan dari Gontor, Arsitektur Gontory…

Iklan

Professionalitas Mbah Sahal, menanti Pak Zar untuk menyusun Kurikulum

Januari 29, 2014

kh-ahmad-sahal

KH Ahmad Sahal  sejak semula sudah dipandang sebagai Kyai yang disegani masyarakat.

Mbah Sahal, demikian beliau biasa di panggil, adalah seorang Kyai dengan tauhid dan aqidah yang luar biasa, mengingat jaman itu khurafat dan kemusyrikan merajalela.

Beliau adalah salah satu Kyai yang berani mengacak-acak sebuah tempat pemujaan di Selatan kota Ponorogo. Yang disitu terdapat sebuah patung kepala Raksasa yang di keramatkan, dan semua orang takut datang ke situ.

Dengan berani beliau datang ke tempat itu, bahkan menduduki patung itu dengan berani, untuk menunjukkan bahwa patung-patung itu benda mati yang “La Yanfa’ wa laa Yadlurru” (Tidak bermanfaat dan tidak berbahaya)  Baca entri selengkapnya »


Menjaga Sholat Subuh Berjamaah Itu Penting

Januari 5, 2014

abdullah-syukri-zarkasyi“Bila kamu terlambat sholat subuh secara berjamaah, maka kamu juga akan terlambat mendatangi sholat wajib lainya secara berjamaah”

Selepas subuh di bulan Ramadhan di akhir millenium baru, tahun 2000.  Ribuan pasang mata santri kelas lima yang memang tidak diizinkan pulang selama liburan ramadhan berusaha keras menahan kantuk selepas sholat subuh.

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakutuhu.
Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakutuh.

Sebuah salam yang khas dan menggelora menyentakkan ratusan kepala yang sedang menahan kantuk. Tak ada yang menyangka bila kultum hari ini akan diisi langsung oleh KH. Abdullah Syukri.

Sebuah kejutan, surprise dan tentunya letupan ribuan semangat yang tiba-tiba menyengat layaknya aliran listrik. Baca entri selengkapnya »


ma ba’dahu? (apa sesudahnya?)

April 14, 2008

gontor 1

Santri yang aktif di klub olahraga biasanya akan dicap sebagai preman pondok. Mereka dikonotasikan sebagai pelanggar disiplin, tak pernah berpakaian rapi, dan ndablek. Padahal justru mereka adalah individu yang paling jujur dan ikhlas dalam roda kehidupan pondok. Mereka tidak pernah bersembunyi dalam baju pengurus organisasi hanya untuk meminta keringanan disiplin.

Dalam praktek hukuman kedisiplinan, mereka selalu menerima apa adanya. Digundul ya gundul. Dirotan ya dirotan. Dari sinilah muncul sebuah jiwa pengorbanan yang tulus. Karena meski dia dihukum, dia tetap kembali ke lapangan dengan seragam klub kebanggan.

Dia tahu seragam itu tak akan pernah memberi dia kompensasi hukuman disiplin. Inilah titik letak kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan pujian atau cercaan. Disinilah jatidiri ditempa dan tempat di mana emosi tersalurkan. Sebuah refreshing yang tak ternilai di tengah dahsyatnya gejolak kawah candradimuka.

Sekarang bandingkan dengan mereka-mereka yang perlente. Selalu menjaga sikap diluar kantor organisasi. Bahkan rela tak menegur teman sekelas hanya demi menjaga wibawa. Bagi mereka penampilan luar lebih penting daripada kepuasan batin. Lebih baik sedikit tidak enak hati, daripada harus menegur teman sendiri di depan anggota.

Selain kehilangan jatidiri dan kepuasan batin. Lebih parah lagi, mereka merasa bahwa jerih payah dalam mengurusi keorganisasian cukup dibayar dengan keringanan disiplin yang dia dapat. Seperti benang, yang tajam mengiris meski tipis. Peran yang seharusnya hanya sebuah lakon dalam sandiwara itu akhirnya justru menjadi karakter dalam kehidupan nyata.

Penyakit tadi kemudian menjadi parah ketika dicampur dengan latar belakang santri yang berasal dari keluarga hedonis. Dia sengaja mengincar jabatan tertentu selain agar dapat fasilitas dan dispensasi, adalah memang diniatkan sebagai upaya lari dari ketatnya disiplin. Yang pada akhirnya dia akan selalu haus (Hanya Agar Ustad Senang).

Apakah kemudian sukses tidaknya seorang santri memiliki korelasi dengan seberapa aktif seorang santri di keorganisasian?. Dengan tegas penulis jawab “tidak”. Justru yang paling menentukan adalah bagaimana santri ketika mengisi liburan.

Gontor memberikan masa libur santrinya 10 hari di semester awal dan 50 hari di semester akhir atau setara dengan 2 bulan. Justru efek liburan bisa menghancurkan hasil 10 bulan penggemblengan. Inilah yang harus paling di waspadai oleh wali santri.

Sebagian wali santri membebaskan putranya selama liburan, karena merasa bahwa anaknya telah cukup berat melalui hari-hari di Gontor. Waktu 24 jam kemudian hanya dihabiskan dengan makan, tidur dan nonton tv. Sebagian lagi ada yang kumpul dengan kawan lama, melepas rindu.

Sebagian profil santri yang selamat dari ancaman liburan, biasanya justru tidak kerasan dengan liburan itu sendiri. Dia ingin agar cepat kembali ke pondok. Ada perasaan rindu akan dinamika kehidupan Gontor. Mereka ini merasa bahwa kehidupan diluar pondok tidak menarik

Pimpinan pondok selalu menasehati berulang kali, tentang bahaya “ma ba’dahu ” (apa setelahnya). Ada santri yang setelah bertemu kawanya, ngobrol banyak. Akhirnya merasa takjub, merasa bahwa kehidupan diluar pondok lebih menarik. Meski akhirnya tetap kembali ke pondok setelah habis masa liburan. Tapi hatinya tidak kembali ke dalam pondok. Dia kembali hanya untuk mendapat ijazah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, sebuah niat yang terpendam begitu dalam di hatinya. Bahwa setelah lulus, dia akan menanggalkan atribut ke-Gontor-anya. Mengikuti jejak teman-temanya yang “keren”. Lalu menjadi malu hanya untuk memakai sarung dan peci.

Liburan menuntut wali santri untuk ikut bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Bila “bi’ah” (situasi dan kondisi) santri selama mengisi liburan ini dibiarkan seperti kuda yang lepas lari dari kandangnya. Maka nilai-nilai pendidikan yang santri dapat selama 10 bulan hanya akan masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Sekali lagi “ma ba’dahu?” (apa sesudahnya?), jangan pernah menghakimi seorang santri yang masih berstatus pelajar KMI di Gontor. Meskipun dia selalu di gundul setiap bulan, selalu terlambat ataupun yang lainnya. Selama dia tidak diusir yang artinya dia telah melanggar syari’at Islam, dia tetaplah menyimpan potensi dahsyat. Lalu kapan ledakan itu muncul?. Tentu setelah sebuah mutiara dipisahkan dari kumpulan mutiara. Sesudah dia menyelesaikan pendidikan di pondok.