Pak Sahal, Madzhab Gontor

September 21, 2014

Jika seandainya Kyai Gontor itu seorang NU, Guru-gurunya juga NU, dan para santri-santrinya juga NU, tapi Gontor tidak boleh jadi NU…atau sebaliknya, jika Kyai Gontor, guru dan santrinya semuanya Muhammadiyah, tapi Gontor tidak boleh jadi Muhammadiyah..INI SAKRAL..INI WASIAT..INI WASIAT…

Dulu jaman orde lama pas pemilu Gontor yang menang masyumi, tapi Gontor tidak pernah dan tidak boleh jadi Masyumi..zaman orde baru yang menang PPP, tapi Gontor juga tidak pernah dan tidak boleh jadi PPP, sekarang juga begitu, mau yang menang PKS, banyak alumninya di PKS, jika sekalipun Kyai, Guru, dan santrinya PKS, tapi Gontor bukan dan tidak boleh jadi PKS..!!! Ikutilah kebenaran, dan jangan ikuti orang yang benar….Jadi Gontor harus tetap jadi perekat umat, diatas dan untuk semua Golongan….”

-KH Hasan Abd Sahal-

Iklan

Bebas Finansial Ala Rasulullah

September 8, 2014

Kawan.., alkisah disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang dengan langkah gontai datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

Semoga Bermanfaat..


Kisah Meninggalnya KH. Uzairon Temboro

Agustus 29, 2014

Hari senin, 21 Juli 2014 bertepatan dengan 23 Ramadhan 1435 H. Setelah 1 bulan lebih akhirnya saya baru memiliki keberanian menulis kronologi wafatnya beliau. Sebelumnya saya masih shock dengan kepergian beliau dari dunia ini.

Senin petang selepas bayan/ceramah bakda Ashar. Beliau masih memimpin musyawarah bersama para ustadz senior dan sesepuh dakwah yang mengurus kegiatan Masjid Markaz.

…..

artikel ini telah dipindahkan ke blog khusus Kabar Dakwah Temboro silahkan klik disini (dakwahtemboro.wordpress.com)


Gontor, Selalu Berusaha Lebih Baik.

Agustus 26, 2014

image

Setelah 10 tahun, akhirnya saya menguatkan hati untuk menelusuri lorong-lorong Gontor dengan jalan kaki. Terlalu banyak kenangan dan entah apakah saya yg mudah terharu ini mampu menahan tiap ledakan kenangan indah.

Dari tahun ke tahun Gontor selalu berubah lebih baik. Bukan sekedar fasilitas fisik, kurikulum ataupun ustad-ustadznya yg sekarang rata rata hafidz Quran. Tapi juga semangat para santrinya yg tetap dan bertambah luar biasa dan antusias bahkan saya rasakan melebihi zaman saya dulu.
image

Saya merasa bahwa 90-100% santri saat ini masuk Gontor karena memang keinginan hati mereka. Bukan karena paksaan orang tua atau karena enggak sengaja seperti saya dulu.

Sehingga mereka begitu antusias ikhlas dan semangat mengikuti ritme kehidupan Gontor yang ketat, keras dan cepat. Hal tersebut menyebabkan hal hal buruk yg diwariskan para senior seperti kami bisa dieliminasi bahkan dihapus tuntas.
image

Ambil contoh seperti disiplin. Zaman “orde baru” dulu, disiplin ditegakkan dengan ancaman hukuman fisik yang bahkan kasarnya melebihi stpdn. Tapi sekarang mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran dan antusias. Hukumanya cukup diberdirikan saja.

Hal positif lainya adalah soal rokok. Rokok sekarang sudah menjadi barang “haram”. Tahun 2003 saat mengambil ijazah, saya masih bisa dan menemui para penikmat rokok di seputaran masjid Pusaka dan pendopo yang memang tempat favorit ahli hisap.
There always better generation at Gontor.

Langkah saya terhenti sejenak di hadapan tulisan ini. Teringat almarhum guru yang telah meninggal. Walau ratusan guru terbaik Gontor telah wafat, semoga Allah terus melimpahkan guru guru pengganti yang lebih baik. Patah tumbuh, hilang berganti.
image


Kebersihan di Gontor

Juni 3, 2014

image

Ini lah Gontor, kampung damai itu. Ini adalah suasana keseharian, bukan dibuat-buat ketika mau difoto lalu dibersihkan dulu, ditata, diperbaiki, lalu setelah selesai foto berantakan lagi.
Baca entri selengkapnya »


Pak Syukri dan Pak Hasan, dwitunggal penyuplai energi tanpa henti

Januari 13, 2014

pak hasan dan pak syukri1Tahun 1997 saat masih jadi santri baru dan tinggal di gedung sighor baru yang bersebelahan dengan rumah pimpinan. Saya mendengar dan melihat ada huru hara fitnah yang menguji ikatan dwitunggal dua sosok manusia luar biasa ini.

Suasana belajar malam ujian tengah semester yang mencekam semakin menakutkan, karena pondok memberlakukan status untuk menangkal fitnah dari selebaran yang ditulis oleh orang tak bertanggung jawab. Baca entri selengkapnya »


Emnuh, kisah keikhlasan seorang santri untuk diajar.

Januari 12, 2014

gontor

Ini adalah kisah tentang seorang sahabat sekaligus kerabat di Kampung Damai. Pada masa cerita ini terjadi, kampung damai masih menghalalkan rotan untuk menegakkan disiplin, sesuatu yang sudah dihapuskan saat ini.

Panggil saja dia Emnuh. Secara silsilah nasab seharusnya mendapat gelar khusus pada namanya seperti “gus”, karena bapaknya adalah salah satu ustadz paling senior di Gontor.

Pak Hasan dan Pak Syukri, dua pimpinan pondok saat ini adalah murid bapaknya. Tapi inilah kampung damai Gontor, tempat dimana saya adalah saya bukan siapa bapak saya.

Sesuai tradisi, santri yang berasal dari sekitar desa Gontor boleh untuk tidak tinggal di asrama. Hanya bersekolah dan mengikuti kegiatan-kegiatan penting lainya, selebihnya berada di rumah. Baca entri selengkapnya »