Professionalitas Mbah Sahal, menanti Pak Zar untuk menyusun Kurikulum

kh-ahmad-sahal

KH Ahmad Sahal  sejak semula sudah dipandang sebagai Kyai yang disegani masyarakat.

Mbah Sahal, demikian beliau biasa di panggil, adalah seorang Kyai dengan tauhid dan aqidah yang luar biasa, mengingat jaman itu khurafat dan kemusyrikan merajalela.

Beliau adalah salah satu Kyai yang berani mengacak-acak sebuah tempat pemujaan di Selatan kota Ponorogo. Yang disitu terdapat sebuah patung kepala Raksasa yang di keramatkan, dan semua orang takut datang ke situ.

Dengan berani beliau datang ke tempat itu, bahkan menduduki patung itu dengan berani, untuk menunjukkan bahwa patung-patung itu benda mati yang “La Yanfa’ wa laa Yadlurru” (Tidak bermanfaat dan tidak berbahaya) 

Hal ini semata-mata menunjukkan betapa kokohnya keyakinan beliau akan kuasa Allah itu. Betapa tingginya keimanan beliau kepada uluhiyatullah dan rububiyatullah.

Antum bisa rasakan itu dari banyak nasehat-nasehat beliau :
“Bondo bahu Pikir lek perlu sak nyawane pisan”,
“Berani Hidup tak takut Mati”,
“Njajal awak mendah matio” (Mencoba kemamapuan, kalau perlu sampai mati)
adalah cermin betapa kuatnya keyakinan Tauhid itu.

Jadi bukan hal yang aneh kalau akhirnya batin beliau terasah untuk “memfirasati zaman”. Sehingga banyak hal-hal yang beliau sampaikan tentang masa depan pondok dan akhirnya menjadi kenyataan.

Keyakinan Tauhid ini juga bagi saya juga adlah sebuah “Sanggahan Besar” terhadap cerita-cerita takahyul tentang beliau. Seperti : Beliau Sholat di dua tempat di waktu yang bersamaan, Jaros Ma’had yang konon dari BOM jepang yang “diremote” oleh beliau sehingga jatuh di sungai malo dan diambil sebagai JAROS, atau konon pernah terbang dengan sajadah ketika pembangunan masjid Gontor.

Sungguh, semua itu bagi saya tidak layak di sandangkan kepada beliau yang bagi saya adalah seorang Kyai dengan “mutu Tauhid” yang exellent. Meskipun saya juga tidak menafikan adanya karomah beliau. Yang paling kita rasakan tentunya adalah doa beliau untuk Gontor yang semakin maju dan besar.

Tapi meskipun demikian, beliau menyadari bahwa soal kurikulum pendidikan, maka beliau bukanlah ahlinya.

Ada sebuah peristiwa menarik, ketika Tarbiyatul Athfal sebagai cikal bakal Gontor. Waktu itu para Guru menyusun Kurikulum. Ketika kurikulum itu diserahkan kepada beliau, Pak Sahal nampak kurang setuju lalu berkata : “Kurikulum nya elek (jelek) Tunggu Zarkasyi Pulang…!!”.

Nampak dari ketegasan beliau, bahwa untuk urusan Kurikulum, maka beliau bukan ahlinya. Beliau tahu kurikulum itu jelek, tapi konsep yang bagus juga beliau belum tahu. Makanya beliau serahkan itu kepada Pak Zar, yang waktu itu masih menuntut ilmu di Padang.

pak Zar dan Mbah SahalFoto: Pak Zarkasyi dan Mbah Sahal

Satu Balasan ke Professionalitas Mbah Sahal, menanti Pak Zar untuk menyusun Kurikulum

  1. Haidir Rahman mengatakan:

    Ust, cerita Kiayi Sahal yang ngencingi keris, ada gak….?
    klo ada tolong diposting ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: