Pak Syukri dan Pak Hasan, dwitunggal penyuplai energi tanpa henti

pak hasan dan pak syukri1Tahun 1997 saat masih jadi santri baru dan tinggal di gedung sighor baru yang bersebelahan dengan rumah pimpinan. Saya mendengar dan melihat ada huru hara fitnah yang menguji ikatan dwitunggal dua sosok manusia luar biasa ini.

Suasana belajar malam ujian tengah semester yang mencekam semakin menakutkan, karena pondok memberlakukan status untuk menangkal fitnah dari selebaran yang ditulis oleh orang tak bertanggung jawab.

Wali kelas saya sudah mewanti-wanti kami, kalian di sini adalah untuk belajar bukan berghibah. Kalau sampai berghibah tentang bapak kyai, maka kalian tidak pantas menjadi santri lagi di sini, pulang saja.

Nasehat itu begitu membekas dalam ingatan saya, santri harus taat total kepada kyai. Diucapkan dengan tegas dan keras oleh wali kelas yang sehari-hari sangat lemah lembut dalam bertutur kata.

abdullah-syukri-zarkasyiSelama menjadi santri, dalam imajinasi saya. Pak Syukri ibarat bapak bagi kami para putranya. Dia punya energi yang tidak ada habisnya untuk mendoktrin kami tentang banyak hal.

Selama kuliah umum dalam rangka pekan perkenalan tentang pondok, selama 3 hari 3 malam. Pak Syukri mendemonstrasikan bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah yang sangat bertanggung jawab bagi masa depan anaknya.

Beliau biasa berceramah 3-4 jam lebih. Semua penghuni pondok harus hadir di acara ini. Tidak ada alasan untuk absen, membolos berarti mengundurkan diri dari Gontor, keluar atau diusir.

Di sinilah insting duet maut antara Pak Syukri dan Pak Hasan tersaji.

Ketika kami lelah dan penat karena keterbatasan jiwa kami menerima injeksi pengetahuan yang meluap-luap. Pak Syukri akan meminta Pak Hasan untuk tampil.

Tampilnya Pak Hasan di mimbar aula laksana Ibunda yang mendekap erat anaknya yang kelelahan. Sang anak merebahkan kepala di pangkuanya dan dielusnya sembari memotivasi untuk terus mendengarkan.

Pak Hasan akan tampil cuma beberapa menit, membacakan puisi atau cerita lucu penuh hikmah yang merefresh otak kami sehingga memory kami bersih dari bad sector dan siap menerima limpahan doktrin dari ayahanda.

Dalam keseharian kami menjadi santri di dekade 90-an. Pak Syukri sangat sibuk dengan urusan di luar pondok, terutama menyangkut urusan pengembangan pondok cabang.

Ketika beliau pulang ke pondok bukanya beristirahat tenang di rumah, tapi memanggil para pengurus eselon I dan II untuk diminta laporan. Sering kami menjumpai antrian sampai dini hari di depan kantor pimpinan.

Di pagi hari beliau biasanya mengejutkan kami dengan berjalan kaki mengelilingi pondok atau tiba-tiba muncul di kegiatan hari jumat dengan menyapa penuh semangat padahal masih tergambar letih dan lelah di wajah beliau.

pak hasan1

Adapun Pak Hasan bertugas sebagai penjaga gawang benar-benar memainkan peranya sebagai penjaga rumah tangga pondok. Wujud fisiknya akan selalu menyapa kami di lorong-lorong kelas setiap pagi dengan berjalan kaki.

Kami biasanya akan membentuk pagar betis dengan harapan bisa bersalaman atau mendengar candanya menggurui kami. Tapi terkadang beliau menghindar dengan mengambil jalan pintas melewati lorong kamar mandi.

Di saat sore beliau biasanya berdiri sebagai coach kami di lapangan sepakbola. Terkadang turut ikut bertanding dan pasti menjadi top scorer karena pemain lawan tidak ada yang berani men-tackling beliau.

Maret 2013

Beranda facebook saya tersaji kabar tentang isi ceramah Pak Hasan dalam peringatan Persemar.

“Kemaren saya sengaja harus menyempatkan diri untuk menjenguk Pak Syukri di Jakarta, karena rasa kangen saya itu seperti separuh nafas yang hilang”.
Pak Hasan terdiam sejenak menyeka air mata,
“Tak ada yang lebih mengenal Pak Syukri melebihi saya, bahkan istrinya Pak Syukri sekalipun. Dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami, kecuali panggilan Allah”.

Semoga dua orang tua kami ini diberi umur yang panjang dan bermanfaat bagi umat.

pak hasan dan pak syukri

pak hasan n pak syukri 4

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: