Sweet of Qatar, My Ending Story About the Warmfull State (1)

Ada kecamuk dalam hati ketika sebuah impian yang coba saya wujudkan dihadapkan pada pilihan untuk menjadi seorang “penduduk” di tengah emas hitam. Awal Mei 2008 surat pengunduran diri saya kepada Kolonel Ahmad al-Khulaifi ditolak dengan sebuah nasihat, “Kenapa harus mundur, enam bulan lagi kamu saya ajukan untuk masuk ke sekolah kepolisian. Ada tunjangan anak, istri, rumah dan mobil. Sudah, pikirkan lagi saja”

Setiap kali berkas pengunduran diri saya ajukan, jawaban yang terlontar selalu sama. Teman-teman di kantor juga menasihatkan hal yang sama. Menurut mereka, peran saya di bagian pemberkasan perkara masih sangat dibutuhkan.

Maklum saja, bagian pemberkasan adalah neraka di kantor kepolisian Doha. Di awal kontrak posisi saya sebenarnya hanyalah penerjemah. Tapi berhubung pegawai sipil di pemberkasan perkara sedang cuti, maka untuk sementara saya diperbantukan.

lagi suntuk
Celakanya, setelah si bagian berkas yang asli pulang dari liburan. Dengan alasan kekurangan personil, dia dipindahkan ke pengawas tahanan dan saya ditetapkan di bagian neraka ini. Jumlah awal berkas ketika saya kali pertama bertugas totalnya 6500 dan ketika saya memutuskan pulang ke Indonesia bertambah menjadi 12.300 .

Tugas saya adalah mengecek kelengkapan Berkas Perkara sebelum dikirim ke Kejaksaan, kemudian menyimpan copynya untuk di follow up dengan setiap keputusan kejaksaan. Setiap hari keputusan kejaksaan yang datang terbagi dalam tiga kelompok. Di berhentikan (SP3), penyelidikan lebih lanjut dan pengajuan ke Mahkamah beserta barang bukti, saksi dan tersangka.

Setiap pemberhentian perkara harus disertai dengan pencabutan pencekalan dengan menghadirkan pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Bila ada penyelidikan lebih lanjut maupun pengajuan ke mahkamah, sebelum diserahkan ke penyidik, BAP harus dilengkapi dengan data lengkap saksi, tersangka dan barang bukti. Dan bila diperlukan, saya juga yang harus menelpon nama-nama yang ada di BAP untuk memberi tahu ini-itu.

Kemudian masalah akan muncul ketika jam kerja semakin siang. Antrian para bekas tersangka juga semakin panjang. Orang yang keturunan Arab tidak akan mau antri bersama orang-orang dari Asia Selatan (India, Nepal, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka), teriak-teriak adalah senjata mereka untuk didahulukan. Sedangkan orang-orang Asia Selatan, karena mungkin kebanyakan nonton film India, senjata andalanya adalah menangis Bombay.

Di antara banyak jenis bangsa yang harus saya hadapi tiap hari, orang Mesir adalah favorit saya, suara sangat keras dan khas tapi untungnya meskipun saya orang Jawa suara dan tampang saya sesangar orang Medan. Para orang Mesir ini sering pura-pura sebagai orang Qatar dan pengin mendapat keuntungan sama seperti para pribumi.

Tapi sesangar apapun orang Mesir, nyali mereka tetap saja kecil. Bila setiap bentakan mereka diladeni dengan bentakan, dan anda bisa lebih cerewet dari dia. Dia akan ngeper, mundur dan duduk manis. Bahkan tak jarang mereka akan memberikan uang tips untuk didulukan. Yah, lumayanlah.

Karena minimnya orang Indonesia di Qatar, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Nepal. Baik orang kantor maupun mereka yang datang mengurus perkara. Orang-orang Asia Selatan bila bertemu saya akan langsung nyerocos dengan bahasa India. Kalau lagi suntuk, biasanya akan saya balas dengan bahasa Jawa bla-bla-bla

Karena dasar orang India sangat pede, bukanya mereka menyingkir, tapi malah mengganti bahasa dengan Tamil atau Kerala. Kalau sudah begini saya yang menyerah. Alhamdulillah sejak bulan ketiga saya bisa sedikit-sedikit bahasa India, hal pertama yang saya suruh adalah duduk mengantri setelah mengenalkan bahwa saya adalah orang Indonesia.

Disinilah saya mengerti dan bisa menghargai sekaligus bangga betapa besarnya Bangsaku. Setiap kali saya mengatakan bahwa saya adalah orang Indonesia, semua bangsa Mesir, Sudan, Lebanon, Jordan, Palestina, India, Sri Lanka, Pakistan, Afganistan dll. Semuanya akan menunjukkan rasa respek.

Semua respek tersebut, terutama karena berkat jasa Ahmad Soekarno dan Muhammad Soeharto. Terlepas dari kekurangan mereka berdua, yang pasti dimasa mereka berdua lah Bangsa Indonesia dihormati dan disegani di dunia Internasional, terutama di tingkat Asia Afrika.

Sayang, kebesaran bangsaku saat ini sudah mulai dihinakan (Baca: TKW seharga 5 Riyal)

4 Balasan ke Sweet of Qatar, My Ending Story About the Warmfull State (1)

  1. Den Mas mengatakan:

    gyahahahaha…
    kampong sendiri emang lebih nikmat. But, I love Indonesia anyway, and still optimist with this beloved country.

  2. emnoer mengatakan:

    iya, sama dengan ucup… orang mesir emang kek gitu, apalagi di negara mereke sendiri. sok-nya minta ampun. lek nesu bengok2 pooolll… tapi lek dibengoki juga dia jadi isin… ternyata meskipun kecil orang indonesia gak mau kalah😀🙂 pengamalan dan pengalaman ini !

  3. emnoer mengatakan:

    jadi sekarang di mana posisi ma?!

  4. amalia mengatakan:

    Assalamu’alaykum…Kepengen bgt bljr d temboro,ad persyaratan khusus g untk jd santri dsni.ksh info tlg,wassalam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: