HARAPAN TERPENDAM SEORANG BAPAK

Dua “sejoli” itu kembali mengitari alun-alun kidul, masih tetap berpelukan dengan berjalan pelan, menikmati udara pagi Jogja. Cinta kasih di antara mereka, membuat mereka tidak memperdulikan nafas terengah-engah dari pelari-pelari pagi yang hilir mudik menyalip mereka.

Mereka yang tidak peduli, ataukah pelari-pelari itu yang sinis dengan kemesraan mereka?, tak ada yang tahu isi hati.

Dalam hangatnya pelukan, mereka memang sangat akrab, bila tidak boleh dikatan sangat mesra. Tidak hanya berjalan berpelukan, mereka terlihat membicarakan sesuatu.

Saat mendengarkan pasangannya membicarakan sesuatu, si pendengar terlihat sangat sumringah, mulutnya terus tersenyum sambil sesekali tertawa kecil, dengan rangkulan hangat di pundaknya.

Di lihat dari penampilan luar, dua orang yang sedang memadu cinta kasih tersebut tentu bukanlah orang “berada”. Mereka hanya mengenakan sandal jepit yang lusuh, kaos oblong yang telah berlubang, dengan wajah kisut seperti tanpa (kurang) perawatan.

Meski begitu adanya, mereka terlihat sangat bahagia dalam cinta kasih, sebagaimana di ungkapkan para pujangga,
bila cinta telah bertaut
dunia seakan milik berdua
kantong kosong bukanlah halangan
demi kesenangan kasih tersayang
berat beban hidup
terkubur rindu merindu berdua
Sebagai satu-satunya ruang publik di Jogja – bahkan mungkin di Indonesia – alun-alun kidul memang banyak menebarkan tontonan pasangan-pasangan yang sedang de mabuk asrama. Karena memang itulah salah satu manfaat adanya suatu ruang publik, yaitu sebagai tempat relaksasi dari kepenatan hidup bagi warga kota yang terkungkung dalam industri, dalam asap kendaraan, dan dalam karir.

Diantara banyak pasangan tersebut, pasangan ini adalah yang paling unik – jika anda tidak tertarik – seorang bapak berumur setengah, menggandeng anaknya (maaf) yang tunanetra dan rakhitis (penyakit yang di sebabkan kekurangan vitamin D yang menyebabkan kaki berbentuk X atau O, sehingga menyebabkan kesulitan dalam berjalan) dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, mereka bukanlah berasal dari golongan menengah ke atas dalam hal kemampuan ekonomi, tapi dalam hal kasih sayang mereka berada pada level yang paling elite.

Kemesraan mereka seakan menegaskan bahwa munculnya rasa kasih sayang orang tua terhadap anak, tidaklah karena disebabkan kemapanan ekonomi.

Selama ini muncul anggapan bahwa anak lah yang membutuhkan kehadiran orang tua. Sehingga bila si anak terjerumus dalam suatu kesalahan, maka yang pertama muncul adalah tuduhan kesalahan pada orang tua yang tidak dapat mendidik anak. Sebagaimana rumah yang ditempati, anggota keluarga haruslah menopang satu sama lain.

Tak akan ada di dinding tanpa pondasi, dan tidak di sebut rumah bila tak ada atap. Paradigma yang terbangun tentang kewajiban dalamkeluarga selama ini lebih pada kewajiban orang tua pada anak.

Padahal sebagai anggota keluarga keluarga, anak juga memiliki kewajiban kepada orang tua, bukan hanya kewajiban berbakti atau kewajiban mengurusi orang tua ketika lanjut usia. Sebagaimana elemen-elemen dalam suatu bangunan yang saling memberikan timbal balik, begitu jugalah seharusnya hubungan antar anggota keluarga.

Tidak ada yang mengira sebelumnya, jika seorang public figure Roy Marten ternyata pengguna narkoba. Begitu juga ketika ada anggota dewan – baik tingkat pusat maupun daerah – juga tertangkap basah mengkonsumsi narkoba.

Bahkan pelawak juga terpaksa mengkonsumsi narkoba, padahal dalam wajah mereka, selalu tersirat senyuman untuk mengundang tawa orang.

Diantara banyak kasus tersebut, kasus Roy Marten-lah yang paling banyak mendapat sorotan. Selama ini narkoba selalu di identikkan dengan sebagai pelarian bagi orang-orang yang banyak masalah, broken home, salah pendidikan dsb. Padahal sosok Roy selama ini dikenal memiliki kehidupan bahagia, karir sukses, keluarga harmonis, anak-anak yang juga telah mulai sukses.

Lalu kenapa bisa terjerat dalam narkoba jenis sabu-sabu, padahal jenis ini mayoritas pemakainya adalah orang-orang sedang stress dan dalam tekanan.

Seberapa besar rasa cinta suami-istri, maupun seberapa lama mereka telah terjalin dalam ikatan pernikahan, mereka tetaplah manusia yang meiliki perbedaan satu sama lain, serta kekurangan.

Kemungkinan timbulnya konflik dalam suatu rumah akan semakin tambah banyak dan kompleks seiring bertambahnya anggota keluarga (anak), apalagi ketika si anak bertambah usia menjadi dewasa. , apalagi ketika si anak bertambah usia menjadi dewasa.

Disinilah letak kewajiban seorang anak. Semakin bertambah usia, seharusnya seorang anak juga sadar, bahwa dia dilahirkan di dunia bukan sebagai beban, melainkan sebagai “khalifah” , yang secara makna berarti, pemimpin dan pengganti.

Bukan hanya anak yang membutuhkan orang tua, tapi juga orang tua yang membutuhkan anak. Kebutuhan orang tua pada anak bukan sebatas materi, yang selama ini sering di wujudkan dalam bentuk cita-cita rendahan, “kerja dulu biar bisa ngasih duit ortu baru nikah”. Orang tua membutuhkan labih dari itu, jika memang ada orang tua yang materialistis.

Perhaitkan kembali cerita di atas, si anak memang “divabel”, yang mungkin terasa memalukan bagi sebagian orang untuk memiliki anak cacat, tapi tidak dengan si bapak itu, dia sangat senang – bahkan juga merasa bangga – dengan anak yang divabel ini.

Meski tidak bisa melihat dan untuk berjalan saja susah, si anak telah memberikan kepada bapaknya kebahagiaan dengan “hanya” mendengarkan cerita, keluh kesah kesusahan, dan segala unek-unek serta beban di hati sang bapak.

Si anak terus saja tersenyum, mengangguk dan tertawa sesekali, sedang bapaknya terus saja bercerita. Mereka biasanya akan berkeliling alun-alun kidul sebanyak 3-4 kali, dengan keliling alun-alun kidul sepanjang kurang lebih 800 meter, itu artinya, mereka biasa menempuh jarak 2,4 – 3,2 KM.

Bagi sang bapak yang sehat dan dapat berjalan normal, jarak sepanjang itu bukanlah masalah, tapi si anak itu mengajarkan pada kita, beginilah salah satu bentuk untuk membahagiakan ayahnya, kebahagiaan psikis (rohani) jelas lebih terasa dari pada kebahagiaan yang bersifat materiil.

Ketika terjadi peristiwa hadiitsul ifki, di mana orang munafik menuduh Aisyah telah berselingkuh dengan salah seorang sahabat, Nabi pergi menemui Fatimah untuk “curhat” mencurahkan segala “unek-unek” beliau kepada puteri tercintanya ini.

Dan begitulah seharusnya seorang anak, Fatimah dan si anak divabel diatas telah memberikan contoh bahwa anak tidaklah harus menuntut haknya kepada orang tua, tapi juga harus bisa meringankan beban orang tua terutama secara psikis, terutama lagi ketika hubungan ayah dan ibu sedang bermasalah, seorang anak tidak seharusnya lari atau malah justru membenci salah satu diantara keduanya, tapi harus berusaha untuk membantu keduanya kembali seperti sedia kala.

Di sudut lain alun-alun kidul, di depan sitinggil, para lansia (lanjut usia) sedang melakukan senam jantung sehat, biar tetap sehat. Si bapak (ayah anak difabel terebut ), mengajak anaknya yang divabel jalan-jalan keliling alun-alun kidul, juga dengan niat untuk menjaga kesehatan. Tapi si bapak tidak hanya menjaga kesehatan jasmani, tapi rohani.

Sedang para lansia itu, mereka memang menjaga kesehatan, tapi itu adalah buah dari ketakukan, takut karena sakit dan yang pasti, apa yang mereka lakukan pastilah sangat membosankan, karena hanya mengulang gerakan yang itu-itu saja, musik yang sama dan orang-orang yang sama, tanpa variasi.

Sedang si bapak itu, selalu menemukan hal-hal yang baru, beban-beban kehidupan yang baru yang harus di bagikannya dengan anaknya, dan termasuk baju baru dan sebuah mainan baru yang pada hari itu di kenakan dan di pegang si anak, sungguh suatu kebahagiaan selalu membuat hidup menjadi baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: