Gempar (Bagian-II)

DIDIKAN PREMAN TERMINAL

Oleh: (Y.CHANDRA MUAS)
2002-04-02 10:50:52

gsp

(Pengantar Redaksi : Pada bagian-I Gempar menceritakan pertemuan ibunya ,Ny Jetje Langelo dengan Bung Karno di Manado.Dari perkawinan mereka lahirlah Gempar yang sejak kecil harus berpisah dengan sang ibu.Ia pun menjalani kehidupan yang penuh penderitaan akibat janji sang ibu untuk memegang amanat Bung Karno. Dan foto diatas adalah Gempar itu sendiri, bukan penulis.)

Saat remaja Gempar tumbuh menjadi pemuda kekar, gagah dan cerdas. Iapun mulai dilirik para gadis. Namun ia lebih suka bergaul dengan preman pasar atau berkutat di laboratorium sekolah.”Saya minder bertemu lawan jenis,” ujar Gempar yang percobaannya menggemparkan sekolahnya dan urung menjadi mahasiswa kedokteran ini.

Sejak Gempar berusia 10 tahun, ibunya , Ny Jetje mulai sering berkunjung ke rumah ibu Mince, tempat Gempar dititipkan. Minimal tiga bulan sekali, sekedar menengok anaknya. Pada kunjungannya Jetje sesekali memberi uang untuk bayar SPP dan uang jajan seadanya.Namun ia tidak pernah bermalam. Pagi datang, sorenya kembali lagi ke kampung.

“Dalam pertemuan itu, sebenarnya saya ingin protes, kenapa saya dibiarkan menderita, hidup dengan ibu angkat yang memperlakukan saya seperti babu. Hampir tiap hari menerima siksaan lahir batin. Namun, setiap kali saya akan bicara, mulut saya sepertinya terkunci. Saya tidak akan tega menyaksikan ibu bersedih bila mendengar pengaduan saya. Apalagi setiap kali bertemu wajah dan tatapan ibu selalu sendu. Seolah menyimpan sesuatu yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya. Akibatnya, saya cuma bisa menangis. Namun tak berani bersuara. Airmata mengalir dalam tangisan yang tertahan. Ibu pun sering tak kuasa menahan airmatanya. Sering kami berdua saling bertangisan dalam setiap kali pertemuan itu. Saat akan berpisah, ibu pasti memeluk saya dan mengusap rambut saya sambil berkata, kamu harus tabah, jalan hidup akan jadi guru yang sangat berharga bagimu kelak. Untuk itu, jika kamu ingin jadi orang, kamu harus tekun belajar dan jangan nakal,” tutur Gempar mengenang masa kecilnya.

Suatu kali, ketika Ny Jetje lama tak berkunjung, dan Gempar tak punya uang sedikitpun, ia kembali ke rumah Ibu Basalamah untuk berjualan es keliling kampung. Karena dagangannya belum laku, Gempar menjajakan es agak jauh, hingga ke terminal bus Empat Lima Manado, 3 kilometer dari tempat tinggalnya. Saat itu, ia melihat ibunya sedang menunggu bus yang akan bertolak ke kampungnya. Menyaksikan sang anak tengah menjajakan es, Ny. Jetje langsung mendekap Gempar. Tangisnya meledak.

“Airmata saya pun bercucuran.Tak mampu saya berkata-kata. Sayang pertemuan itu tidak lama, karena sudah terlalu sore, bus terakhir menuju kampung segera berangkat. Sambil berpesan agar saya hati-hati, jangan sampai pecah termos es orang, harganya mahal, Ibu menyelipkan sejumlah uang buat saya. Sambil menyeka airmata saya lambaikan tangan pada ibu, sementara tangan kiri menenteng termos es. Saya pun berlalu, kembali ke rumah Ibu Basalamah. Karena punya uang, es dagangan saya makan.Walau berjualan es, saya jarang menikmati es sampai puas. Sebab, kalau saya makan lebih dari satu sesuai jatah, keuntungan buat saya bisa dipotong,” kata Gempar.

SIKSAAN BELUM BERAKHIR

Suatu sore, seusai berjualan es, Gempar diajak teman-teman sebayanya berenang di sungai Karame, tidak berapa jauh dari rumah ibu Mince. Saking asyik bermain, ia lupa jika hari telah senja Apalagi waktu itu terang bulan dan esoknya hari libur, tidak ada PR sekolah yang harus dia kerjakan.

“Begitu masuk pekarangan rumah, saya langsung disambut dengan pukulan rotan oleh Fence. Dia marah-marah, karena ketika ia dan adik-adiknya akan mandi, ternyata drum bak mandi kosong, belum sempat saya isi. Tangan saya langsung dia ikat, saya dipukuli sambil diseret ke dalam rumah. Setibanya di ruang tamu, saya pikir dia sudah berhenti memukuli saya. Ternyata lebih sadis lagi. Dia ambil kabel listrik, langsung disetrumkan ke paha saya. Saat itulah saya benar-benar pasrah kepada Tuhan. Kalau memang saya harus mati, saya sudah siap. Disaat saya menjerit menahan setruman itu, tiba-tiba lampu langsung mati. Saya pun melepaskan ikatan dan berlari ke luar rumah. Fence masih mengejar saya. Malang, begitu sampai di jalan, saya langsung pula ditabrak mobil jeep seorang komandan tentara yang sedang melintas. Anehnya, saya tidak apa-apa, malah masih bisa lari, walau telah berada di kolong mobil. Fence pun dimarahi tentara itu,” kenang Gempar.

Setelah peristiwa itu Fence bukannya jera,malah sikap kejamnya bertambah. Berbagai kesalahan kecil harus dibayar Gempar dengan siksaan. Ancaman golok dan disiram air panaspun sudah tidak terhitung banyaknya. Terakhir, dia diikat di pohon nangka dan dirubungi semut.

“Kali ini saya benar-benar berteriak dan mengundang perhatian tetangga. Saat itulah hampir pecah keributan anatar tetangga yang akan melepas saya dari Fence. Sejak itu pula keluarga ini dikucilkan warga sekitar.”

Suatu malam, Gempar mengakui, bahwa hidupnya kian hari kian gelap. Sehingga lahir istilah dia, “Habis gelap terbitlah gelap, dan gelap terus.” Pameo itu dia abadikan dalam buku tulisnya.

Malam itulah, kata Gempar tiba-tiba muncul keinginannya untuk mati. “Saya ingin bunuh diri,” katanya. Dia ambil racun serangga semprotan nyamuk yang tersimpan di dapur.

“Saya lihat masih ada sekitar satu gelas. Langsung saya minum. Saya langsung ke kamar. Tiba-tiba saya merasa pening, perut melilit dan muntah-muntah. Dalam kesakitan itu, tak seorang pun yang menolong saya. Anehnya, dalam keadaan sekarat itu, antara sadar dan tidak, saya pikir saya sudah akan mati dan sempat bergumam, selamat tinggal dunia. Ternyata, saat ayam berkokok pagi hari di kandang yang persis di sebelah kamar saya, saya terbangun dalam keadaan segar. Ternyata tidak jadi mati. Rutinitas penderitaan pun terus saya jalani lagi,” kata Gempar.

HIDUP BEBAS

Karena setiap hari bekerja berat, mengangkat air, membelah kayu, mencuci dan sebagainya, menjadikan fisik Gempar tumbuh kekar dan berotot. Maka ketika dia pulang kampung untuk pertamakalinya setelah tamat SD, tahun 1972, kakeknya, Emile Langelo, sempat tidak percaya, kalau Gempar adalah cucunya. Saat Gempar minta biaya untuk masuk SMP, sang kakek langsung menggiringnya ke kebun kelapa, sekitar satu kilometer dari rumahnya.

“Saya disuruh manjat kelapa dengan upah dua kali lipat dari tukang panjat di sana. Semula saya agak kaku. Namun, hari-hari berikutnya sudah mahir, mampu memanjat pohon kelapa 15 batang sehari. Selanjutnya diolah menjadi kopra. Upahnya, lumayan, bisa untuk biaya masuk ke SMP Roma Katolik Don Bosco, Manado,” ujar Gempar.

Dia kembali ke Manado dan tinggal lagi di rumah ibu Mince. Melihat fisiknya sudah kekar dengan badan tinggi besar, membuat Fence berfikir dua kali jika memarahi Gempar. Begitu pula Ibu Mien. Terbukti, suatu kali, ketika Fence membentak Gempar yang saat itu duduk di kelas dua SMP langsung dilawan Gempar.

“Fence cabut golok, saya pun pegang balok. Saya tantang dia berkelahi. Untung segera dilerai tetangga.” Sejak itulah Gempar mulai menikmati kebebasan hidup di rumah itu. Akibatnya ia semakin jadi orang asing di rumah Ibu Mince.

“Saya harus cari makan sendiri, cari biaya sekolah sendiri dan sebagainya dengan menjadi kondektur bemo yang melayani rute Manado- Bitung. Pulang ke rumah Ibu Mince cuma untuk istirahat tidur,” ungkap Gempar. Kala itulah dia mulai kenal kehidupan terminal dan bergaul dengan preman pasar “Empat Lima” Manado.

“Jika sudah malam, terutama malam Minggu atau malam hari libur saya tidur di terminal. Kalau tidak di emperan toko, membaur dengan preman yang badannya penuh tato. Saat itulah saya tahu, terkadang preman lebih manusiawi dari orang-orang yang berpendidikan. Mereka beli nasi bungkus, saya pun dibelikan. Ketika mereka mau melakukan kejahatan, mereka bilang, kamu jangan ikut rusak seperti kami yang tidak bersekolah. Ayo kembali ke sekolahmu,” kenang Gempar.

Dari pergaulan terminal itu, Gempar kenal Aseng, seorang Tionghoa yang semula dikenalnya sebagai pedagang cengkeh. Aseng, minta jasa Gempar yang bertubuh kekar itu untuk menemani dia ke kampung-kampung penghasil cengkeh dengan menggunakan sepeda motor.

“Sampai di desa, ia bodoh-bodohi petani cengkeh. Ia menukar motornya dengan sekian puluh batang pohon cengkeh yang tengah berputik. Setelah cengkeh petani tadi siap panen Aseng pun datang memetik. Semula, saya pikir, hebat juga bisnis Aseng. Hanya bermodalkan sebuah sepeda motor, bisa menghasilkan berpuluh-puluh sepeda motor nantinya setelah cengkeh dipanen.Cuma dalam tempo beberapa bulan. Namun, lama-lama, saya menyadari, kalau bisinis ini kotor, sama dengan lintah darat. Karena bertentangan dengan prinsip hidup dan hati nurani, Aseng pun saya tinggalkan,” papar Gempar.

Padahal, diakui Gempar, selama setahun menjadi “body guard”-nya Aseng, ia hidup lebih dari cukup. Waktu itu Gempar mampu membeli perlengkapan sekolah, seperti seragam, buku-buku, sepeda balap, sepatu bagus, arloji mahal dan berbagai perlengkapan berkelas lainnya. Melihat Gempar sudah menjadi orang “kaya”, Fence yang begitu membencinya pernah beberapakali minta uang pada Gempar.

Meski dia sering mengawal Aseng ke berbagai tempat, Gempar tidak pernah meninggalkan bangku sekolah. Di perjalanan, bahkan di kebun pun dalam setiap kesempatan, dia pasti belajar. Karena itulah, ketika lulus SMP dia tampil sebagai juara kelas dan berhasil masuk ke SMA Negeri I Manado, sekolah menengah teladan tingkat Sulawesi Utara masa itu.

BAKAT PEMIMPIN

Begitu duduk di bangku SMA Gempar langsung dikenal para siswa di sekolahnya , mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Selain gagah dan cerdas, diapun pintar bergaul.Tak heran bila baru 6 bulan duduk di kelas satu , dia sudah dipercaya sebagai ketua OSIS.

Selain itu Gempar menyandang pula jabatan:ketua kelas, ketua Pramuka, ketua kelompok belajar IPA, ketua kesenian sekolah dan ketua tim olahraga. Maka tak heran, SMA Negeri I Manado yang sudah cukup terkenal itupun, dengan hadirnya Gempar di sana, menjadi lebih populer lagi. “Sekolah kami pernah juara lomba Cerdas Tangkas, Kesenian dan berbagai aktivitas luar sekolah lainnya, termasuk olahraga.”

Satu hal yang sempat melambungkan nama Gempar di SMA itu, adalah ketika dia berhasil membuat karya ilmiah yang telah diuji keakuratannya oleh para pakar Unsrat masa itu.Saat itu dia berhasil menciptakan sumber listrik tenaga matahari non solar cell dan sumber tenaga listrik dari gelombang laut. Keberhasilan ini, berkat kerja keras Gempar hampir dua tahun berkutat di laboratorium sekolah dan membaca berbagai buku sebagai literatur, asing maupun lokal.

“Kalau yang berbahasa Belanda, Jerman atau Inggris, saya terjemahkan secara tradisional, dengan melihat kamus, kemudian merangkai kata-katanya. Maklum, waktu itu saya belum mahir menggunakan kedua bahasa asing ini ,” ungkap Gempar.

Kecuali bila dia sedang pulang kampung, dia bisa minta bantuan ibunya yang pernah mengecap pendidikan Belanda, sehingga mahir berbahasa Belanda dan Inggris. Atas temuan ini, dia memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah sebagai pemuda pelopor yang kreatif.

Tidak puas di situ saat duduk di kelas tiga, dia nyaris meledakkan laboratorium sekolah dalam sebuah praktek. Saat itu Gempar mencampur beberapa zat kimia yang bisa menimbulkan ledakan. Untungnya, benda tadi segera dilemparkannya ke halaman sekolah dan meledak di sana.

Pada suatu kesempatan Gempar sengaja membuat percobaan sejenis di tengah lapangan, disaksikan para guru dan rekan sekolahnya. Percobaan Gempar ini menimbulkan ledakan yang cukup dahsyat. Melambungkan sebuah drum kosong yang dipakai sebagai wadah percobaan. Suara ledakannya pun terdengar hampir 3 kilometer, sehingga memecahkan kaca-kaca rumah dan sekolah di sekitar tempat itu. Sejak itulah pratikum Gempar distop oleh gurunya.Sang guru khawatir percobaan yang dilakukan muridnya yang kreatif ini nantinya bisa disalahgunakan orang.

SELAMAT TINGGAL MANADO

Sejak duduk di SMA, hampir tiap minggu Gempar pulang ke kampung, untuk meminta bekal sekolah pada ibunya. Di hari Minggu ia seharian berada di kebun kelapa milik sang kakek. Memetik kelapa dan mengupas isinya, dijemur untuk dijadikan kopra.

“Terus terang, waktu SMA tangan saya ini kapalan dan kasar, karena saban minggu memanjat dan mengupas kelapa. Karena kasar itu, kadang-kadang saya malu juga bila bersalaman dengan orang, terutama teman wanita,” ujarnya.

Meski demikian, sebagaimana diakui Sammy Kullit (43 tahun), teman akrab Gempar sejak SD hingga SMA di Manado ,sebenarnya Gempar sudah menjadi perhatian banyak teman wanita saat remaja. Tidak saja di SMA I juga dari SMA lain. “Sebab, selain cerdas, Gempar juga pandai bergaul .Ditunjang pula penampilan fisiknya yang atletis,” kata Sammy. Sayang, Gempar tak pernah membalas lirikan teman wanitanya.

“Terus terang, saya minder. Saya ini orang melarat. Mana ada orang yang mau pada saya. Waktu itu, saya lihat, walau ada cewek yang mendekat, tapi, akhirnya dia akan pergi dengan teman yang ke sekolah naik mobil atau sepeda motor. Maklum, SMA Negeri Satu itu, adalah tempat berkumpulnya anak orang kaya dan anak pejabat daerah. Jadi, mana mungkin kita bersaing dengan mereka. Sementara, saya ke sekolah jalan kaki atau naik Bemo. Jeane, Isteri yang kini telah melahirkan seorang anak remaja untuk saya, adalah adik kelas yang pernah saya taksir berat. Namun, saya minder untuk mendekati dia. Kami malah bertemu di Jakarta, sekitar sepuluh tahun kemudian,” tutur Gempar. Tahun 1977 Gempar tamat dari SMA dengan prestasi lima besar seangkatannya. Namun, diakui kelulusannya itu justru membuat dia gamang.

“Saya bingung, tidak tahu harus menempuh jalan mana untuk kelanjutan hidup. Mau kuliah, belum tahu, siapa yang akan membiayai. Ibu tidak punya penghasilan. Kakek pun mulai sakit-sakitan dan mengharapkan saya untuk menetap di kampung mengelola pertanian kelapa . Saya bertekad, bagaimana pun saya harus maju, saya harus kuliah,” katanya. Waktu itu, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi adalah salah satu Fakultas paling favorit di universitas paling terkenal di Sulawesi Utara itu.

“Semua teman kelompok belajar saya mendaftar ke sana. Akhirnya, saya pun ikut. Di luar dugaan, saya lulus. Namun, ketika Fakultas minta uang sumbangan pembangunan, yang jumlahnya lumayan besar, saya tidak sanggup membayar. Kakek sendiri tidak punya uang. Saya berjuang minta keringanan biaya pada penyelenggara. Meski diturunkan, tetap saja pada angka yang cukup tinggi buat saya. Akhirnya, dengan kecewa, saya urungkan diri mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran. Seorang dosen di sana sempat menawarkan pada saya untuk kuliah di salah satu fakultas ilmu sosial, yang bisa dijalankan sambil bekerja. Terlanjur kecewa, tawaran itupun saya tepis. Sebenarnya, sempat terpikir oleh saya untuk kembali mendekati Aseng. Saya yakin, dia pasti akan membantu saya. Namun, karena bisnisnya sebagai lintah darat yang bertentangan dengan hati nurani, niat itu urung saya lakukan,” ujar Gempar.

Membawa kekecewaan yang dalam Gempar kembali ke kampung. Ia lantas bekerja keras di kebun kelapa kakeknya untuk mengumpulkan uang. Ia bertekad akan merantau ke Jakarta. Untuk itu Gempar memerlukan biaya di perjalanan.

Selama sebulan berkutat di kebun terkumpul uang Rp. 25 ribu. Hanya berbekal dua setel pakaian yang dibungkus dalam sebuah kantong plastik, tidak lupa menggulung ijazah dalam sebuah buluh (bambu) kecil, berpamitanlah Gempar pada ibu dan kakeknya. Dengan berbekal bungkusan nasi dan lauk pauk, Gempar menuju pelabuhan Bitung. Pelabuhan laut terbesar di Sulawesi Utara ini merupakan pintu gerbang utama bagi orang-orang yang akan bertolak ke pulau Jawa lewat laut.

Ternyata uang yang dikumpulkan Gempar tidak cukup untuk membayar ongkos kapal di dek sekalipun. Namun tekadnya untuk merantau sudah bulat.Ia mengambil jalan pintas,menjadi penumpang gelap di kapal.Agar tak ketahuan awak kapal, Gempar menyelinap ke cerobong asap yang panas dan nyaris merenggut nyawanya.

Bagaimana perjuangan Gempar selanjutnya di Pulau Jawa hingga akhirnya benar- benar membuat gempar kalangan politik Indonesia, tunggu KARTINI nomor depan, “Inikah Satrio Piningit Yang Dirindukan Rakyat Itu?”

Sumber: http://www.kartini-online.com

4 Balasan ke Gempar (Bagian-II)

  1. arif rakhman mengatakan:

    wajahnya kok mirip banget ama BK ya?

  2. BaGoes Latansa mengatakan:

    Salam Damai

    Bravo gempar…begitulah mau jadi laki2 sejati harus kuat dan tabah, disitu proses spiritual seseorang diuji ( bukan dilihat berapa banyak dia berangkat haji, sholat DLL )
    tapi out put sosial dia…dari yang gelap,samar2 dampai terang pernah kamu alami.
    jadilah “pejuang” jgn pernah mengemis dgn orang lain walo saudaramu kaya2 jadilah lelaki sejati,sejatinya ilmu sejati…bravo gempar

  3. […] wanita asal Manado, yang “disembunyikan” atas amanat BK sendiri. Baca kisahnya di sini (1), (2) dan (3). Versi lain silsilah keluarga BK –tanpa Jetje– dapat dilihat di sini. Banyak sekali […]

  4. unang mengatakan:

    cerita yang menarik. kalo bisa dibuatkan filmnya pak, biar rakyak pada tahu sejarahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: