Titik awal bagi seorang mujtahid dan titik akhir bagi seorang moderat

Sekarang ini ada jamaah dalam Umat Islam yang berlagak seakan-akan Islam ini baru turun kemaren sore.” (KH. Khuzairon, PP. Al-Fatah)

Titik awal bagi seorang mujtahid dan titik akhir bagi seorang moderat. Demikian saya mengartikan judul kitab “bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid”. Salah satu mahakarya dari Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi yang akrab dipanggil Ibnu Rusydi. Judul yang provokatif!.

Mayoritas pesantren di Indonesia memilih kitab “ihya ulumuddin” sebagai salah satu kitab utama agar yang diharapkan menjadi salah satu pijakan bagi metode pembentukan berfikir santri. Di tengah kepungan kitab “ihya”, Gontor justru sama sekali tidak mengajarkannya. Bahkan kemudian dengan berani memasukkan pemikiran Ibnu Rusydi, yang tidak lain adalah “musuh” dari pemikiran Ghozali.

Umat Islam tentu tidak akan lupa bagaimana hebatnya diskusi panjang antara Ghozali dengan Ibnu Rusyd, yang diakhiri dengan vonis menyimpang dari mainstream Islam oleh para pengamat untuk Ibnu Rusyd. Kalau begitu Gontor juga menyimpang dari mainstream Islam?.

Ibnu Rusydi adalah ulama multi talenta yang tidak mengenal dikotomi keilmuan yang berpendapat bahwa , setiap usaha untuk mempelajari dan memahami suatu ilmu adalah bagian daripada ibadah.  Dewasa ini profil Ibnu Rusydi lebih banyak dibaca sebagai “cendikiawan” daripada ulama. Karyanya dalam bidang ilmu agama kurang mendapat apresiasi sebagaimana di bidang kedokteran.

Di sinilah Gontor mencoba mengapresiasi pemikiran Ibnu Rusyd dalam bidang ilmu Fiqh. Salah satu apresiasi nyata itu terwujud dari moto Gontor, “berdiri di atas semua golongan dan untuk semua golongan”. Bahkan dalam metode pengajaran kitab “bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid” lebih tepat disebut sebagai proses apresiatif daripada pembelajaran.

Kitab setebal 2 jilid tersebut dipelajari selama 3 tahun tapi tidak secara utuh, bahkan hanya setengah jilid pertama saja yang diajarkan selama kelas 4 – kelas 6. Jadi tidak sampai khatam dan tidak ada acara khataman sebagaimana mengaji kitab ihya. Disinilah letak apresiasi itu.

Inti pengajaran dari kitab “bidayatul mujtahid” tidak hanya pada teks yang tertulis. Tapi yang Gontor ajarkan kepada santrinya adalah bagaimana pola berfikir dan bersikap Ibnu Rusyd dalam menghadapi perbedaan, terutama dalam perbedaan madzhab.

Seorang muslim terutama yang baru terlahir, harus bercermin pada Ibnu Rusydi. Bahwa seorang Ulama besar, yang pernah memegang jabatan hakim agung Cordoba sama sekali tidak melakukan justifikasi pada fatwa imam-imam madzhab. Kitab “bidayatul mujtahid” hanya menerengkan kenapa para imam madzhab berbeda pendapat tentang suatu masalah, dengan menjelaskan secara rinci akar permasalahan dan akar pemahaman tiap-tiap madzhab.

Jabatan hakim agung memberikan kesempatan pada dia untuk menentukan madzhab resmi pemerintahan – sebagaimana praktek di Arab Saudi – untuk kemudian melarang bahkan membasmi yang lain. Kenyataan yang terjadi, dia memilih untuk berdiri diatas semua golongan dan untuk semua golongan.

Muslim zaman akhir harus sadar, tahu, paham bahwa agama ini bukan turun kemaren sore. Bahwa masalah perbedaan furu’iyyah sudah dibahas ratusan tahun yang lampau oleh empat imam yang berkompeten dan tidak diragukan kapabilitasnya. Tidak ada lagi individu muslim zaman akhir yang setara kompetensinya setara. Tinggal pilih di antara emapat yang tersedia dan amalkan. Karena memilih juga bagian dari ijtihad, jadi bukan taqlid.

Hanya orang kerdil dan tak tahu malu yang memberikan hujatan kepada saudaranya yang berbeda pendapat. Orang seperti ini seharusnya membaca satu halaman dari isi kitab “bidayatul mujtahid”. Agar menemukan jawaban atas pertanyaan kenapa orang harus berbeda. Dan jawabnya, “Bahwa anda tidak sehebat Ibnu Rusydi!”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: