ma ba’dahu? (apa sesudahnya?)

gontor 1

Santri yang aktif di klub olahraga biasanya akan dicap sebagai preman pondok. Mereka dikonotasikan sebagai pelanggar disiplin, tak pernah berpakaian rapi, dan ndablek. Padahal justru mereka adalah individu yang paling jujur dan ikhlas dalam roda kehidupan pondok. Mereka tidak pernah bersembunyi dalam baju pengurus organisasi hanya untuk meminta keringanan disiplin.

Dalam praktek hukuman kedisiplinan, mereka selalu menerima apa adanya. Digundul ya gundul. Dirotan ya dirotan. Dari sinilah muncul sebuah jiwa pengorbanan yang tulus. Karena meski dia dihukum, dia tetap kembali ke lapangan dengan seragam klub kebanggan.

Dia tahu seragam itu tak akan pernah memberi dia kompensasi hukuman disiplin. Inilah titik letak kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan pujian atau cercaan. Disinilah jatidiri ditempa dan tempat di mana emosi tersalurkan. Sebuah refreshing yang tak ternilai di tengah dahsyatnya gejolak kawah candradimuka.

Sekarang bandingkan dengan mereka-mereka yang perlente. Selalu menjaga sikap diluar kantor organisasi. Bahkan rela tak menegur teman sekelas hanya demi menjaga wibawa. Bagi mereka penampilan luar lebih penting daripada kepuasan batin. Lebih baik sedikit tidak enak hati, daripada harus menegur teman sendiri di depan anggota.

Selain kehilangan jatidiri dan kepuasan batin. Lebih parah lagi, mereka merasa bahwa jerih payah dalam mengurusi keorganisasian cukup dibayar dengan keringanan disiplin yang dia dapat. Seperti benang, yang tajam mengiris meski tipis. Peran yang seharusnya hanya sebuah lakon dalam sandiwara itu akhirnya justru menjadi karakter dalam kehidupan nyata.

Penyakit tadi kemudian menjadi parah ketika dicampur dengan latar belakang santri yang berasal dari keluarga hedonis. Dia sengaja mengincar jabatan tertentu selain agar dapat fasilitas dan dispensasi, adalah memang diniatkan sebagai upaya lari dari ketatnya disiplin. Yang pada akhirnya dia akan selalu haus (Hanya Agar Ustad Senang).

Apakah kemudian sukses tidaknya seorang santri memiliki korelasi dengan seberapa aktif seorang santri di keorganisasian?. Dengan tegas penulis jawab “tidak”. Justru yang paling menentukan adalah bagaimana santri ketika mengisi liburan.

Gontor memberikan masa libur santrinya 10 hari di semester awal dan 50 hari di semester akhir atau setara dengan 2 bulan. Justru efek liburan bisa menghancurkan hasil 10 bulan penggemblengan. Inilah yang harus paling di waspadai oleh wali santri.

Sebagian wali santri membebaskan putranya selama liburan, karena merasa bahwa anaknya telah cukup berat melalui hari-hari di Gontor. Waktu 24 jam kemudian hanya dihabiskan dengan makan, tidur dan nonton tv. Sebagian lagi ada yang kumpul dengan kawan lama, melepas rindu.

Sebagian profil santri yang selamat dari ancaman liburan, biasanya justru tidak kerasan dengan liburan itu sendiri. Dia ingin agar cepat kembali ke pondok. Ada perasaan rindu akan dinamika kehidupan Gontor. Mereka ini merasa bahwa kehidupan diluar pondok tidak menarik

Pimpinan pondok selalu menasehati berulang kali, tentang bahaya “ma ba’dahu ” (apa setelahnya). Ada santri yang setelah bertemu kawanya, ngobrol banyak. Akhirnya merasa takjub, merasa bahwa kehidupan diluar pondok lebih menarik. Meski akhirnya tetap kembali ke pondok setelah habis masa liburan. Tapi hatinya tidak kembali ke dalam pondok. Dia kembali hanya untuk mendapat ijazah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, sebuah niat yang terpendam begitu dalam di hatinya. Bahwa setelah lulus, dia akan menanggalkan atribut ke-Gontor-anya. Mengikuti jejak teman-temanya yang “keren”. Lalu menjadi malu hanya untuk memakai sarung dan peci.

Liburan menuntut wali santri untuk ikut bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Bila “bi’ah” (situasi dan kondisi) santri selama mengisi liburan ini dibiarkan seperti kuda yang lepas lari dari kandangnya. Maka nilai-nilai pendidikan yang santri dapat selama 10 bulan hanya akan masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Sekali lagi “ma ba’dahu?” (apa sesudahnya?), jangan pernah menghakimi seorang santri yang masih berstatus pelajar KMI di Gontor. Meskipun dia selalu di gundul setiap bulan, selalu terlambat ataupun yang lainnya. Selama dia tidak diusir yang artinya dia telah melanggar syari’at Islam, dia tetaplah menyimpan potensi dahsyat. Lalu kapan ledakan itu muncul?. Tentu setelah sebuah mutiara dipisahkan dari kumpulan mutiara. Sesudah dia menyelesaikan pendidikan di pondok.

5 Balasan ke ma ba’dahu? (apa sesudahnya?)

  1. Hery Azwan mengatakan:

    Justru rugi kalau nggak pernah dihukum di Gontor. Terlalu steril. Padahal, pengalaman dihukum itu perlu dalam hidup. Di luar Pondok, kita banyak bertemu dengan peristiwa yang berhubungan dengan hukum. Memacu kendaraan di jalan raya, kalau tak hati-hati, dapat berurusan dengan hukum. Dsb. Jadi, tidak ada jaminan siapa yang patuh di pondok bakal jadi orang. Sebaliknya, siapa yang melanggar tidak akan jadi orang. Semuanya punya potensi sama. Tergantung orangnya…

  2. Yulian 680 mengatakan:

    alhamdulillah ane dulu pas di GOntor dua kali di botak…)

  3. irazth are' the youth 682 mengatakan:

    ana klas 5, 6 kali botak jelll….
    trus pas kls 68 kali,,,,,,
    tapi klas 6 d gojntor gag manQul,,,,
    trus jd ust, d dm3…
    hehehe,,,,
    tapi pengalamnnya buuuuuuuuuuaaaanyak,,,
    gag ckup klao d tuls,,,
    emang gontor is the best campus,,
    n the real of study,,,

  4. ade bagus mengatakan:

    mutiara tidak terlihat berharga apabila di dalam lautan akan tetapi didaratlah dia dimuliakan. pondok ibarat laut maka ma ba’da al-ma’had adalah yang paling urgent. “LIVE IS NEVER FLAT” Viva La Chitatose

  5. @-The Bagoes mengatakan:

    mutiara tidak terlihat berharga apabila di dalam lautan akan tetapi didaratlah dia dimuliakan. Santri adalah mutiaranya, laut adalah tempat naungnya dan daratan adalah kehidupan realnya. pondok ibarat laut maka “ma ba’da al-ma’had” adalah yang paling urgen. Botak adalah ujian maka “ma ba’da” botak itu jauh lebih penting “liyabluwakum ahsanu amalan” (Allah). oleh karena itu kalau botak terus, keluar pondok malah jadi preman beneran. he…he…Ok-Coy…
    “LIFE IS NEVER FLAT” Viva La Chitatose

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: