Sebelum sebuah bakmi tersaji dalam piring. Anda tidak disarankan untuk menengok dapur tempat si bakmi diolah. Maksud saran ini adalah agar nafsu makan anda terus terjaga. Cantiknya sebuah bakmi yang tersaji tidak akan anda temui di dalamnya.
Serupa manusia tanpa make-up, bakmi di dapur hanya berupa gulungan panjang penuh debu. Bahkan karena keriputnya, bakmi bisa renyek bila anda tidak memperlakukanya dengan ramah. Setelah disanjung dengan sangat hati-hati. Bakmi harus dimandikan dengan air hangat, steril dan hiegenis.
Serupa dengan manusia, sebelum tampil dia juga butuh luluran dengan minyak bawang. Sepotong tomat sebagai gincu. Seledri sebagai giwang. Taburan bawang goreng diperlukan sebagai parfum aroma penguat nafsu. Telor, daging dan yang lainya turut menarik simpati. Semuanya dihadirkan agar anda terpikat.
Dapurmu!
Sebuah nasehat khas penduduk Madiun Selatan bila melihat anak manusia yang sedang berlagak sok artis. Maksudnya tentu agar manusia sadar, bahwa dirinya tak ubahnya seperti bakmi. Lihatlah kembali ke dapur, untuk keaslian sebelum dipermak.
Era modern telah menjadikan sosok yang tersaji di televisi dan media lainnya seakan sebagai pribadi yang sempurna. Mereka dipuja, digugu dan ditiru. Padahal mereka tak ubahnya seperti sajian bakmi.
Proses dapur untuk menyajikan mereka sama dengan dapur bakmi. Bahkan waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan mereka, jauh lebih lama daripada yang dibutuhkan sepiring bakmi untuk tersaji. Siapa mereka sebelum masuk ke dalam dapur, hanyalah setitik air yang kotor. Yang jika tumpah keluar, sudah tak berguna lagi.
Halaman ini mengundang anda untuk melihat betapa banyaknya adonan yang ditambahkan pada sajian media. Tidak berbahaya memang, tapi menikmati sebuah sajian tanpa bumbu kimiawi tentu lebih nikmat. Silahkan menikmatinya di menu dapur bakmi

Juli 4, 2008 pukul 3:29 am |
Assalamu’alaikum….
Waah akhirnya sampe juga disini, abis muter lewat belakang Alighar, lewat zona Saudi terus nyebrang ke Asia mentok di KOPDA, tinggal makan piringku pecah…. untung inget ma ni bakmi, Gontor-gontor, selalu aja ada solusi….
Agustus 30, 2008 pukul 5:54 pm |
Salam, maaf dah lama ga mampir mas…
Marhaban ya ramadhan… Alhamd kita masih bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan….
Sebelumnya saya juga minta maaf kalo ada kesalahan selama ini.. Semoga silaturrahim ini terus terjaga.. amiin
Desember 11, 2008 pukul 8:36 am |
Alhamdulillah… back to the old school, nice memory… keep moving on ur step, will u ?
Desember 11, 2008 pukul 8:41 am |
Man yuriid Tajammu’? KUMMMMMMMM. tanabbah kismul amn… he…he…
Februari 17, 2009 pukul 7:53 am |
kak, makrunah wahid,ma’ kasir qolil,heeeee tajammuk yuk…..
September 30, 2009 pukul 7:00 am |
lumayan….