LEBIH BAIK KAH KITA? (Kritik Moral Untuk Buku-Buku Kristologi)

Setiap mengunjungi toko buku, ada rasa yang aneh tiap kali saya memilih buku di zona Agama. Terserak belasan atau mungkin puluhan judul buku yang mencolek hati saya.

Hati besar saya tidak ada masalah dengan judul maupun essensi-essensi buku tersebut, tapi hati kecil saya kok merasa ada yang nggak bener. Saya membayangkan jika saya tidak termasuk golongan si penulis tentu saya akan tersinggung.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana marahnya saya dan saudara-saudaraku umat Islam ketika Rasulullah SAW divisualkan. Tiba-tiba saya kok merasa, bagaimana kira-kira rasanya ketika keimanan kita dihina secara bertubi-tubi seperti itu.

Dakwah seperti inikah yang dicontohkan oleh Rasulullah?. Saya tidak akan berkaca mata berdasarkan halal atau haram, sunnah atau bid’ah. Tapi lebih kepada Akhlaq, pantas atau tidak.

“Dan tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan Akhlaq manusia” demikian salah satu statemen kenabian Rasulullah.

Pada masa awal Islam, umat Islam hidup berdampingan dengan Agama Pagan (Penyembah Berhala) dan Agama Samawi (Yahudi dan Kristen). Oleh karenanya terdapat perbedaan pendekatan dakwah yang dilakukan Rasulullah.

Dakwah Rasulullah pada penyembah batu (pagan) dapat dikategorikan keras dan menohok. Selain mengirim para sahabat untuk bekhotbah langsung dihadapan mereka, Rasulullah juga turun langsung. Bahkan beliau berkeliling ke kota-kota di dekat Makkah, seperti kejadian Thaif.

Pendekatan berbeda diambil dalam mendakwahi komunitas Yahudi dan Kristen, Rasulullah lebih banyak melakukan pendekatan Akhlaq. Tidak sekalipun Rasulullah mendatangi sinagog maupun gereja untuk mencela keyakinan mereka. Bahkan dalam melaksanakan hukum terhadap mereka, Rasulullah menunjuk orang mereka sendiri seperti pada peristiwa perang Ahzab.

Al-Qur’an memang dengan sangat tegas menyatakan kekafiran mereka. Tapi Al-Qur’an juga memberi kabar gembira untuk mereka sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah ayat 62 berikut:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.”

Dakwah harusnya dijadikan ladang fastabiqul khoiraat (berlomba dalam kebaikan) oleh setiap umat beragama. Saya selalu teringat alasan paling klasik missionaries Kristen ketika disidang para Ulama muslim. Bahwa apa yang mereka kerjakan hanyalah kegiatan social. Mereka mau menghentikan kegiatannya asalkan para penyidang tersebut itu mau menggantikanya. Dan keputusannya, para ulama tetap buncit perutnya sedangkan umat tetap tidak terpikirkan kepuasan rohani maupun jasmani.

Bila memang sudah sedemikian egois sikap Ulama maupun da’I, maka janganlah ditambahi dengan meneror Umat agama lain dengan menulis buku-buku yang berjudul provokatif.

Jika memang kita masih menghendaki agar hidayah Islam tersebar, maka janganlah kita menjadi penghalang turunnya hidayah. Perbanyak ikhtiar melalui silaturrahmi bukan sikap yang bermusuhan.

Yang paling utama, tentu doa, memohon kepada Allah agar memberi hidayah Islam kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan siapa saja yang berkehendak menjemput-Nya. Sadarilah, bahwa usaha tanpa do’a adalah kesombongan dan do’a tanpa usaha adalah kemustahilan.

Saya pun sadar, jika tulisan ini mungkin akan memantik cap-cap kafir atau musuh Islam atau apalah yang tidak Islami kepada diri saya. Tapi saya maklumi, karena mungkin mereka sedang dalam pengembaraan yang mungkin sedang mencari arah.

2 Tanggapan ke “LEBIH BAIK KAH KITA? (Kritik Moral Untuk Buku-Buku Kristologi)”

  1. Agus Suhanto Berkata:

    salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yang bagus :)
    lam kenal yaa

  2. Den Mas Berkata:

    selalu ada keseimbangan sul. Ada orang liberal, ada orang radikal. ada kanan ada kiri. Itu hanya siklus saja, seperti siang dan malam.
    Ingat ketika Arswendo menaruh peringkat Nabi SAW pada peringkat 11? Sedikitpun itu tidak mengurangi keagungan Nabi SAW kan? sama juga ketika faith freedom mati2an menghujat islam. Atau ketika orang indonesia menghujat habis2an inul. Setelah apa yang mereka katakan, apa yang mereka tulis, semua berlalu begitu saja, dalam tumpukan khazanah intelektual. Biar Tuhan yang menyeleksi, mana yang pantas bertahan sampai hari kiamat :)

Tinggalkan Balasan