Teror bom yang hadir kembali setelah vakum selama hamper tiga tahun menghenyakkan Indonesia. Tuduhan pelaku kembali mengarah kepada seseorang yang beragama Islam. Fundamentalis radikal, demikian ideologi yang dianutnya.
Seperti biasa, Polisi bergerak cepat menangkap beberapa orang berjenggot, berjubah dan bercadar dengan tuduhan terlibat dan tersangka. Dengan dalih klasik, mereka adalah orang-orang yang menganggap Indonesia kafir dan harus diperangi agar syari’at Islam tegak.
Anehnya, ada sekelompok orang yang menamakan diri Tim Pembela Muslim selalu muncul dipermukaan dan membela para drakula-drakula tersebut. Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah memang eksis dan mereka adalah benar teroris.
Hadirnya tim pembela yang menamakan dirinya sebagai Tim Pembela Muslim benar-benar menampar saya sebagai Umat Islam. Seakan-akan seperti justifikasi bahwa Islam benar-benar membenarkan aksi-aksi pengeboman dan membantu para pengebom bangsat tersebut.
Yang lebih memalukan lagi adalah ketika pemakaman trio bomber Bali. Terlepas telah terjadinya penzaliman pasal hukuman mati. Sungguh tidak pantas jika orang yang telah mengakui perbuatan zalimnya disambut bak pahlawan.
Apalagi kemudian dimunculkan alibi bahwa persidangan Amrozi,Cs penuh dengan rekayasa, bahwa sebenarnya pengbom Bali bukan Amrozi,Cs. Dan bla-bla yang lainya.
Sudahnya saatnya umat Islam menanggapi dengan lapang dada dan jujur, bahwa memang benar ada golongan teroris yang mengatasnamakan Islam di Negara kita tercinta ini. Bila ingin Islam tidak mendapat cap “teroris”, maka umat Islam jangan membantah dan membantu bila saudara mereka memang teroris.
Umat Islam harus jujur dan membantu perang melawan teroris. Tidak lagi menganggap Noordin M. Top sebagai saudara, meski mereka se-Islam, tapi harus diingat bahwa dia juga sudah membunuh saudara se-iman kita, jadi hukum qishas berlaku untuknya, nyawa dibayar nyawa. Ingat, mereka yang menghendaki syari’at ini bukan?
Sedangkan untuk mereka yang masih bercita-cita mati syahid dalam perang, sadarlah. Allah telah menetapkan tiga tempat suci bagi Umat Islam, Mekkah, Madinah dan Al-Aqsa.
Sudah menjadi taqdir Allah, bila al-Aqsa selalu bergejolak. Al-Aqsa sebagai ladang jihad, Mekkah ladang beribadah dan Madinah sumber ilmu. Tentu saja di Indonesia juga bisa menjadi ladang jihad tapi bukan dalam bentuk perang, melainkan ibadah dan ilmu, tapi berbeda nilainya, karena setiap ibadah di tanah suci pahalanya dilipatgandakan mulai dari 20 ribu kali sampai 100ribu kali.
Entah mungkin karena bodoh atau tidak punya nyali. Para bomber-bomber tersebut seharusnya mikir, kalau mereka meledakkan diri mereka di Indonesia, nilainya hanya satu kali syahid (bahkan mungkin sangit/bau dalam bahasa jawa). Tapi kalau di tanah al-Aqsa, maka nilainya 20 ribu kali syahid karena musuhnya nyata, bangsa Yahudi.
Lagipula, apa yang kurang dari Islam-nya pemerintah Republik Indonesia. Silahkan hitung berapa banyak pemerintah menyediakan lembaga pendidikan Islam yang dibiayai Negara, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri(SD), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) sampai Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
Yang lebih hebat, Pemerintah bahkan menyediakan Universitas dan Perguruan Tinggi berlabel Islam dengan biaya yang sangat terjangkau, UIN, IAIN dan STAIN. Sekarang bandingkan dengan Arab Saudi yang sangat diidolakan oleh kaum bomber, adakah pemerintahnya seloyal ini kepada Umat Islam disana?, adakah Universitas berlabel Islam disana?, kalaupun ada berapa biji?
Bahkan Universitas Al-Azhar di Mesir pun tidak berani memberi label “Islam”, dan bahkan tidak satu pun Perguruan Tinggi Pemerintah di Mesir berlabel “Islam”.
Lalu apa kurangnya “Islam” Pemerintah Indonesia?
Rakyat Indonesia pun lebih Islami semangat beribadahnya daripada kebanyakan Arab Persia (Arab Persis Amerika). Bagi anda yang tinggal di Saudi atau Qatar, pernahkah anda melihat para wanita berbondong-bondong mendatangi masjid atau musholla sebagaimana di Indonesia.
Kaum hawa di Indonesia memang kebanyakan tidak mengenakan cadar maupun jilbab, bahkan berpakaian pun “u can see”. Tapi sempatkanlah anda sholat Magrib di Musholla yang disediakan di Mall atau Plaza. Lihatlah mereka, rela antri di depan musholla yang jauh dari kesan masjid. Suatu pemandangan yang tidak akan anda jumpai di Negara-negara Arab.
Lalu apa kurangnya suasana keislaman Indonesia?
Saya jadi teringat wejangan yang selalu dituturkan Kyai Hasan. Berani mati itu gampang, tapi berani hidup itulah yang susah.
