Untuk kesekian kalinya bom meluluhlantakkan Indonesia. Sedih, gemas dan geram. Meski baru dugaan, sekali lagi pelakunya adalah alumnus Pesantren Ngruki. Tulisan ini bukan untuk justifikasi, tapi dorongan kepada pemerintah agar berani bertindak menumpas habis para teroris mulai dari akarnya.
Beberapa tahun yang lalu pernah ada muncul wacana untuk membubarkan pesantren yang satu ini. Pihak yang berwenang seperti Majelis Ulama Indonesia dan Departemen Agama kemudian melakukan riset ke pesantren Ngruki, dengan konklusi bahwa tidak ada yang salah dengan kurikulum di Pesantren Ngruki.
Saya yakin, Ngruki tidak akan berusaha menyuap agar diloloskan dari stempel sesat MUI dan Departemen Agama. Konklusi dari dua lembaga tersebut lebih disebabkan karena (mungkin) keduanya buta terhadap pesantren.
Pesantren adalah lembaga pendidikan, yang lebih mengedapankan pendidikan daripada pengajaran. Kurikulum pesantren di seluruh pelosok Indonesia sama saja, semua mengajarkan ilmu keislaman dan umum. Buku-buku yang digunakan juga hampir sama.
Doktrin dan Ideologi Ngruki
Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dahsyat. 24 jam santri dididik, apa yang dilihat dan dirasakan santri adalah pendidikan, bahkan tidur pun adalah bagian pendidikan.
Selain pendidikan, ada mata makanan yang khas dalam suatu pesantren yaitu, doktrin ideologi. Mata pelajaran ini tidak ada diajarkan di dalam kelas, tapi didoktrin langsung ke setiap jiwa santri melalui ketokohan Kyai, wejangan-wejangan kyai dan tauladan kyai.
Tidaklah mengherankan bila banyak pelaku bom adalah alumnus Ngruki. Bukankah disana ada Abu Bakar Baasyir, tokoh yang menyebarkan kebencian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan dalih Sekuler dan Kafir.
Untuk menanamkan pelajaran teroris Baasyir tidak memerlukan ruang kelas, atau jam pelajaran khusus atau harus menulis buku panduan. Itulah kenapa MUI atau DEPAG tidak menemukan ada yang salah dengan kurikulum Ngruki.
Doktrinasi dilembaga pesantren diadakan pada jam-jam ekstrakulikuler. Selepas salat Magrib atau ketika ada peringatan hari-hari besar Islam.
Membenci sebuah rezim pemerintah mungkin masih bisa dimaklumi, dan mungkin masih bisa berubah seiring dengan berubahnya rezim atau pergantian presiden. Tapi Abu Bakar Baasyir ini lain dan berbeda.
Yang dibenci dan dimusuhi Baasyir adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga siapapun presidenya, tetap akan dimusuhi karena musuh Baasyir adalah Indonesia, bukan pemerintah. Dan keteladanan inilah sepertinya yang ditiru oleh bomber-bomber asal Ngruki.
Kebetulan penulis merasakan sendiri bagaimana kerasnya ideologi keluarga al-Ghozi dan keluarga mertua Amrozi plus pesantren yang dikelola keluarga mereka yang berafiliasi ke Ngruki.
Pemerintah seharusnya sigap, tanggap dan tegas. Meskipun Baasyir tidak pernah terbukti langsung terlibat pengeboman, tapi ideologi dan keyakinan dialah yang menjiwai setiap aksi bom.
Baasyir tidak perlu ditangkap atau dipenjara. Hukuman yang paling cocok baginya adalah dibuang dan diusir dari Republik Indonesia, Negara tempat dia lahir tapi dia musuhi. Cabut ke-WNI-anya dan buang ketengah gurun sahara atau gurun rub’ul khali di Saudi.
Sedangkan untuk membersihkan Ngruki dari doktrin dan ideologi Baasyir. Selain memasukkan mata pelajaran PPKn harus ada upacara bendera dan kepramukaan. Bila tidak mau, pemerintah harus berani menutup pesantren.
Dan yang paling penting, Pemerintah harus berani mengusir Abu Bakar Baasyir dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
*Tulisan ini juga tersedia di blog saya yang lain

Juli 22, 2009 pukul 12:18 pm |
sebaiknya Anda datang aja ke pondok al mukmin ngruki, biar jelas dan tahu apa aja yang diajarkan kepada para santri! Biar gak asal ngomong!
Juli 22, 2009 pukul 2:27 pm |
apakah anda alumni ngruki? kok bisa begitu detail analisanya…..
Kata GURU saya : “DOKTER MATA TIDAK PERNAH TAHU HIDUNG”
Juli 23, 2009 pukul 11:28 am |
tapi kok terbukti kalau Nur Hasbi bukan pelaku yang selama ini digembar gemborin mas…
Juli 24, 2009 pukul 3:18 pm |
mah, ente terlalu terburu2 menilai. Istighfar mah
Juli 24, 2009 pukul 3:22 pm |
al’ajalatu min asysyaithoon
Juli 24, 2009 pukul 6:28 pm |
Wadduh,wadduh,wadduh….
tadi tulisannya nggak nyambung antara teroris dengan kritikan terhadap MMI, sekarang tanggapan yang sangat radikal terhadap abu bakar ba’asyir.
Gini mas, semua orang mempunyai persepsi yang tidak sama mengenai pancasila.
Saya orang yang nasionalis tapi tentunya lebih mengutamakan agama dong!
Salah satu poin dalam pancasila yang tidak saya setujui adalah, “Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum…”.
Menurut saya, sumber dari segala sumber hukum adalah Al Qur’an dan As Sunnah. iya kan??
Nah, bukan berarti saya tidak berhak hidup lg di Indonesia karena pemikiran saya kan???
Ingat mas,
Allah swt adalah Maha pembolak-balik hati manusia, siapa tahu (semoga saja tidak) esok hari anda yang jadi teroris…!!!
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt.
Juli 28, 2009 pukul 9:17 pm |
Jangan bos, mending jual mi aja
Juli 29, 2009 pukul 2:35 pm |
ini mah emosi doank..ato jg mau menyebarkan kebencian terhadap tokoh islam?kalo baasyir barsalah udah ditangkap polisi donk??mana buktinya bos?kentut doank neeh..
Juli 29, 2009 pukul 2:57 pm |
yang saya tanyakan :
1.Apakah pancasila menjamin orang islam masuk surganya ALLAH?
2.Pancasila dibuat manusia,sedangkan alquran dibuat ALLAH Tuhan manusia,Raja dari raja2 manusia,kepada apa umat islam harus tunduk dan taat?
hanya orang waras yg bisa menjawab dengan benar.
Juli 29, 2009 pukul 3:12 pm |
terlalu banyak komentator di negeri ini,parahnya sebagian komentator cuma berorientasi pada pandangannya sendiri,banyak ngoceh,bukti lemah,berhalusinasi,fakta melenceng,gagap situasi,emosi dan daya tangkap tidak stabil
ini menunjukkan tingkat IQ,EQ,intelektual & intelegensi yg rendah.
ma’af-ma’af saja,informasi dari orang seperti ini tidak bisa diterima akal sehat.
Juli 29, 2009 pukul 5:10 pm |
orang islam taat kpd pemerintah dlm hal yg tidak bertentangan dlm alquran & as sunnah Rasulullah,seperti,buat KTP,shalat jamaah,puasa bersama presiden,gubernur etc,izin usaha,shadaqoh dll,,
tapi untuk hal yg bertentangan dg alquran&assunnah,maka tidak ada ketaatan terhadapnya.ditolak,ditentang,dinasehati,diberi pencerahan dg cara yg lemah lembut sampai cara kasar dg ketentuan syar’i yg berlaku dlm islam.
itu sikap muslim ketika bermuamalah / menjalin hubungan dg pemerintah yg notabene jg manusia biasa.
September 2, 2009 pukul 9:24 am |
saya ragu orang ini islam pa CIA ya?
Desember 12, 2009 pukul 6:06 am |
malu deh kalo alumni gontor punya komentar kayak gini, emang waktu di pondok belajar apa aja, makan mi terus kayaknya, jadi otaknya ruwet kayak mu