DISORIENTASI DAKWAH ISLAM

Menurut hitungan tahun hijriah, saat ini kita berada dalam hitungan 1427 hijriah. Bila mengacu pada hadist populer berikut :
“ Sebaik-baik zaman adalah zaman dimana aku (Nabi Muhammad) hidup, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (al-Hadist)

Hadsit tersebut dapat diartikulasikan bahwa kualitas keislaman yang terbaik adalah Islam pada zaman Nabi hidup, kemudian zaman para sahabat lebih baik dari zaman para tabi’in dan seterusnya. Pada zaman Nabi hidup, segala permasalahan keagamaan ditanyakan langsung kepada Nabi, tapi bagaimana dengan zaman saat ini?

Jarak rentang waktu antara masa saat ini dengan hidupnya nabi 1400 tahun lebih, bila mengacu pada hadist Nabi yang populer diatas, dapat dipastikan bahwa kualitas ke-Islaman pada zaman ini tidak lebih baik atau bahkan menjadi sebaik pada zaman Nabi.

Melainkan menjadi semakin buruk. Bila diklasemen, maka zaman dimana Nabi hidup berada diperingkat pertama, zaman pada saat ini berada diurutan ke 1400-an. Secara lebih radikal dapat dikatakan bahwa tingkat kerusakan pada zaman ini 1400 kali lipat dibandingkan kerusakan pada zaman Nabi

Suatu pekerjaan yang dizaman Nabi memiliki prioritas pertama (1), maka dizaman ini bisa menjadi prioritas ke seribu empat ratus / 1400 alias sudah tidak diprioritaskan sama seklai, bahkan sudah dianggap menjadi hal yang hina, kuno dan ketinggalan zaman (kata orang-orang yang mengaku modern).

Contoh dalam berpakaian, kenapa orang yang memakai pakaian seperti pakaian Nabi-nya dianggap orang yang tolol, bodoh – tidak tahu situasi dan kondisi – dan tidak berpendidikan (sebagaimana diungkapkan oleh seorang khatib pada hari di salah satu Masjid Agung di Jogja).

Astagfirullah, bukankah sekarang zaman “Metamorphoself” – sebagaimana slogan iklan CLEAR – yang memberikan kebebasan pada anak muda untuk menunjukkan jati dirinya. Kenapa para fans grup band NAIF yang berpakaian “retro” – model pakaian tahun 70-80an – dianggap hal yang lumrah, lalu mengapa para pemuda yang ngefans dengan sosok Muhammad, yang kemudian mencoba meniru pakaiannya justru dianggap tolol, bodoh dan tidak berpendidikan

Disorientasi adalah arah tanpa kiblat, dan ketika suatu kaum mengalami keadaan disoerientasi maka batasan kebaikan dan keburukan ditentukan oleh kompromi diantara kaum itu. Dan begitulah kiranya keadaan umat Islam dewasa ini, batasan baik dan keburukan tidak lagi didasarkan pada al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad, tapi didasarkan pada kompromi yang dianggap baik menurut umat, bukan baik untuk kelangsungan agama.

Masjid yang di zaman Nabi difungsikan sebagai pusat utama dakwah Islam, telah berubah menjadi gedung pertunjukkan. Tidaklah penting seberapa banyak shof yang terpenuhi dalam setiap shalat jamaah. Yang kemudian menjadi penting adalah bagaimana meramaikan masjid dengan acara-acara peringatan dengan perayaan yang meriah.

Demi tuntutan zaman, masjid dijadikan bioskop pada bulan ramadhan, tempat nongkrong, ceramah diubah dengan dengan kemasan gaya dagelan, sehingga lebih banyak ketawa dibanding merenung dan memahami.

Tidak hanya masjid, dakwah, sebagai ajakan menuju penyerahan diri (Islam) kepada Allah (bagi para aktivis dakwah) atau yang sering disebut sebagai sarana untuk membantu lebih memahami hakikat kahidupan dunia dan akhirat (akademisi) atau diartikan juga sebagai sarana untuk meng-Islam-kan yang belum mengenal Islam (Missionaris Islam) dakwah juga telah mengalami disorientasi.

Kekuatan dakwah memang luar biasa, terutama bila disampaikan oleh da’i atau muballigh yang menarik. Tidaklah mengherankan bila kemudian dakwah dieksploitasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama dalam kaitan politik dan ekonomi. Dalam hal politik, dakwah menyimpan potensi yang sangat menggiurkan bagi kelangsungan bagi suatu partai politik (parpol).

Menjadi “partai massa”, yaitu partai yang tidak hanya memiliki kuantitas pendukung yang banyak tapi juga kualitas pendukung (Peter Edman, 2005. “Komunisme Ala Aidit”) adalah impian bagi setiap partai politik. Kesuksesan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah kesuksesan yang diimpikan setiap parpol di Indonesia saat ini.

Salah satu kunci kesuksesan PKI adalah rumusan kampanyenya yang terkenal, yaitu, gepuk tular, siji dados sedoso, sedoso dados satus (Peter Edman, 2005). Apa yang dirumuskan Musso dan D.N Aidit dalam membangkitkan PKI setelah pemberontakan 1926 dan 1948 bukanlah suatu metode yang baru. Metode gepuk tular yang mereka terapkan sebenarnya merupakan salah satu metode dakwah yang di terapkan Nabi, yaitu dakwah sirri , dakwah langsung ke obyek sasaran.

Kekuatan dakwah sebenarnya bukan terletak hanya terletak pada metode, tapi juga pada antusiasme mudda’i (orang yang didakwahi) dalam upaya untuk mendapatkan hidayah Allah.

Disinilah letak bermulanya disorientasi Islam, betapa sangat dzholim ketika seorang mudda’i harus dihadapkan pada seorang da’i atau muballigh yang mengharapkan imbalan atas bimbingan yang berikan pada mudda’i berupa keharusan mengikuti sang muballigh dalam berpendapat. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seorang da’i mengarahkan mudda’i sesuai kepentingan yang diinginkan dan bukan sesuai dengan tuntunan agama, sehingga AD/ART atau tuntunan golongan ditempatkan diatas tuntunan agama demi tercapainya tujuan parpol – yang katanya demi kejayaan Islam – demi kekuasaan.

Dalam usaha dakwahnya, partai tidak hanya menyampaikan ajaran-ajaran Islam tapi juga menyisipkan fanatisme pada partai. Dengan menjual konsep negara yang berlandaskan syari’at, setidaknya partai yang memanfaatkan dakwah telah berhasil membangun utopia massa-nya tentang kehidupan yang lebih Islami.

Disinilah akan bermula konflik karena fanatisme yang di bangun adalah fanatisme partai, bukan fanatisme Islam. Maka akan memunculkan konflik horizontal antar umat antar pendukung partai – yang di Indonesia lebih dari satu – karena adanya kompetisi demi kekuasaan (pemilu), dan karena fanatisme berlebihan sehingga menganggap dirinya yang paling benar.

Dengan menggunakan slogan dakwah, sebuah partai tidak hanya terjamin kelangsungan kaderisasi, tapi juga pendanaan. Atribut-atribut partai menjadi barang komersiil, dan para pendukung partai akan dengan senang hati membelinya untuk dikenakan sebagai simbol identitas diri.

Bila fanatisme partai itu tidak terkontrol, arogansi massa PKI di tahun 1960-an akan muncul kembali – ingat PKI menjadi besar juga dengan metode pendekatan personal yang di adopsi dari dakwah – , sebagai partai besar yang dekat dengan kekuasaan, massa akan merasa dirinya tidak tersentuh hukum.

Pada masa Nabi hidup, dakwah ditujukan untuk menyebarkan Islam- sebagaimana utusan Nabi ke kabilah-kabilah Arab yang belum Islam – dan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih Islami – sebagamana dikirimnya Muadz bin Jabal ke negeri Yaman yang telah Islam – bila demikian tujuan dakwah, seharusnya yang dijadikan barometer adalah jumlah jamaah yang melakukan sholat berjamaah di masjid tersebut ketika sholat wajib lima waktu, ingat masjid adalah rumah Allah dan pusat ke Islaman.

Jadi, bagaimana mungkin suatu dakwah disebut berhasil ketika dapat merekrut banyak massa, sedang tingkat kesadaran massa tersebut sangat rendah ketika Allah memanggil (adzan).

Tidaklah mengherankan bila kemudian sakralitas adzan menjadi hilang, adzan bukan lagi tanda seruan untuk sholat melainkan sebagai tanda makan siang, cermatilah hadist berikut:

Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mendengar seruan adzan, tetapi tidak memenuhinya tanpa suatu udzur, maka sholat yang dikerjakannya tidak akan diterima” para sahabat bertanya, “Apakah uzurnya?” Beliau saw. menjawab, “ketakutan atau sakit” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Ibnu Majjah dalam fadlail ‘amaal, hlm.57)

Ada sebuah anekdot, tentang hadist diatas, bila kita mendengar adzan dan tidak memenuhinya, berarti kita sama dengan setan-setan yang seperti digambarkan dalam film-film yang dibintangi Suzanna, dan itu tidak melanggar syariat, karena sebagai setan sudah sepantasnyalah takut pada azan, dan bukankah ketakutan merupakan salah satu udzur (alasan) untuk meninggalkan shalat berjamaah?!?, jadi setankanlah diri anda agar dapat memiliki udzur yang dibenarkan oleh syari’at.

Satu Tanggapan ke “DISORIENTASI DAKWAH ISLAM”

  1. masanas Berkata:

    adanya partai2 bukannya menjadikan umat bersatu akan tetapi malah terpecah belah..karena masing2 partai saling membanggakan dan membenarkan dirinya masing2. itulah hizbiyah. maka mulailah dari diri sendiri untuk mempelajari islam dengan benar. semoga kita termasuk orang2 yang diberi petunjuk..amiin.

Tinggalkan Balasan