Banyak kalangan menyakini bahwa PKS adalah partai yang sangat solid. Sehingga kemudian meragukan bahwa PKS mampu mengikuti jejak partai Islam lain, yaitu menelurkan partai sempalan. Apakah iya?
Pada pemilu 2009 ini, PKS terinspirasi kemenangan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) yang berhasil memenangi pemilu di Turki. Maka tak heran bila selama kampanye PKS “menanggalkan” wajah fundamentalnya, karena dengan cara yang demikianlah PKP bisa memenangi pemilu di Turki.
Dalam iklanya di televisi, PKS mencoba menanggalkan image dakwah radikal. Sosok yang ditampilkan tidak hanya tanpa jilbab panjang khas akhwat PKS atau ikhwan berjenggot. Coba kalau si Pepi Tawa Sutra yang dijadiin tokoh iklan, kan pas banget!.
Ingatan saya kembali ke masa-masa prahara jilbab gaul. Saat dimana buku-buku yang bertema tersebut sangat larir manis, terutama untuk dijadikan senjata oleh para akhwat dalam menyadarkan kaumnya yang masih “jahiliyyah”. Hingga kemudian tumbuhlah banyak idiom seperti “ATAS KERUDUNG BAWAH WARUNG”.
Kampanye Akbar PKS di GBK juga dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa PKS mendukung kesetaraan gender. Cokelat, band dengan vokalis cewek didapuk untuk mengisi acara hiburan. Bahkan Tifatul Sembiring turut bergoyang sepanggung.
Permasalahanya bukan karena Kikan berjilbab atau tidak, toh dia hanya memakai selendang ketika tampil. Tapi bukankah suara wanita menurut fiqh PKS adalah aurat. Club-club nasyidah (kalau putra nasyid) perempuan seperti yang digawangi Asma Nadia cs. Selama ini tidak diizinkan untuk tampil dihadapan para ikhwan. Lalu kenapa ketika kampanye Kikan, cs diizinkan. Tanya kenapa?
Embrio ketidakberesan PKS sudah ada jauh sebelum Pemilu Legislatif. Mulai dari koalisi dengan partai yang tidak dikehendaki oleh arus bawah seperti PDIP dan PDS. Sampai wacana petinggi partai untuk mengizinkan caleg non Islam maju dari PKS. Hal yang tentu saja ditentang oleh para aktivis tarbiyah.
PKS dewasa ini telah lebih mementingkan untuk mendapatkan kekuasaan sehingga lupa darimana dia berasal. Petinggi partai sepertinya lupa bahwa PKS lahir dari rahim Gerakan Tarbiyah. Dan Input SDM gerakan tarbiyah kebanyakan adalah para remaja mahasiswa yang pengetahuan ke-Islam-anya sangat minim. Yang setelah berkenalan dengan Tarbiyah menjadi Aktivis-Fundamentalis Islam. Mereka inilah kultural dalam tubuh PKS. yang menginginkan agar warna politik PKS selalu Islami.
Berbeda dengan para petinggi yang menguasai jabatan struktural PKS, yang akhir-akhir ini cenderung asal terobos untuk mendapatkan sesuatu. Entah, apakah sesuatu yang dituju itu memang untuk kepentingan dakwah, Organisasi atau kepentingan pribadi.
Bila PKS tidak berbenah, maka virus kekisruhan PKB dan PAN siap menjangkiti. Kisruh yang disebabkan oleh tuntutan kaum cultural yang merasa telah melahirkan partai dengan kaum structural yang menguasai struktur kepengurusan partai.
Kisruh PKB diawali oleh orang-orang yang minim ke-NU-anya tapi memimpin PKB seperti Matori Abd Dajjal dan Alwi Shihab. Demikian juga dengan PAN, dimana saat Soetrisno Bakar memimpin, kaum cultural Muhammadiyah merasa tidak terwakili aspirasinya hingga kemudian lahirlah PMB.
Saat ini embrio-embrio ketidakpuasan para aktivis tarbiyah muncul. Terutama terhadap mereka-mereka yang aktif di rapat-rapat partai tapi selalu absent saat liqo’ (kajian keislaman). Mereka ini kebanyakan baru merapat ke PKS karena ada niat menjadi legislator dan punya modal.
Politik Islami Yes, Partai Islam No
Statemen Nurkholis Madjid di era 80-an yang memicu kontrovesi luar biasa di kalangan aktivis Islam. Bukan karena saya juga alumni Gontor, sehingga membela Cak Nur. Tapi fakta telah membuktikan bahwa statemen tersebut benar.
Pra maupun Pasca Pemilu 2009 ini telah membuktikan bahwa partai-partai berbasiskan agama, baik Kristen maupun Islam tidak diminati. Bangsa Indonesia telah secara sadar bahwa politik dan Agama adalah dua sisi mata uang. Meskipun menyatu tapi memiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda.
Rakyat lebih menginginkan perilaku politik yang santun, jujur dan tidak bertikai. Kemenangan Partai Demokrat lebih karena disebabkan karena figure SBY yang santun dan kalem, dan figure itulah yang didambakan rakyat. Bukan yang meledak-ledak seperti Prabowo, atau emosional layaknya Mega.
Partai-partai Islam sekarang ini harus bercermin diri, mengoreksi. Bila memang mereka sudah tidak dikehendaki oleh Rakyat sebaiknya bubar saja. Dan tokoh-tokoh intelektualnya banting setir menjadi pendidik umat di Pesantren maupun Madrasah yang selama ini lekat dengan image “kelas rendah”.
Toh sejarah telah mencatat. Bahwa partai-partai Islam di banyak belahan dunia dalam rentang waktu ratusan tahun, tidak membawa ke maslahatan, kebaikan, maupun kesejahteraan umat. Yang dipertontokan malah perpecahan bahkan pertumpahan darah.

April 14, 2009 pukul 2:09 pm |
PKS tidak mungkin pecah!!!
April 14, 2009 pukul 5:50 pm |
Pada akhirnya, semua partai yang membawa embel-embel agama Islam, harus dilebur. Cukup satu Partai Islam. Para elit Islam harus bisa mengukur kapasitas diri masing-masing, pada level mana seharusnya mereka berada. Maaf, saya tidak sedang menggurui.
April 14, 2009 pukul 7:21 pm |
Pecah karena salah KAPRAHHHHHH EUY !
April 15, 2009 pukul 5:23 am |
Kader2 militan PKS yang saya kenal juga menyatakan demikian, PKS sudah keluar dari ‘khithoh’nya. Sebagai partai dakwah, iklan politikpun juga media dakwah. Media dakwah pake anak2 punk, peppi, wanita2 yang hampir semua tidak berjilbab (kecuali yang bilang ‘Palestina Kita Sayangi’). Memang yang namanya demokrasi ya gitu. Cari suara sebanyak mungkin, norma mulai dikesampingkan.
April 15, 2009 pukul 5:12 pm |
Dilema PKS ini seperti Sarekat Islam yang akhirnya pecah menjadi dua. Pun sejarah partaipartai Islam memiliki pola yang mirip seperti itu. Persoalan yang ada sederhana. Kalau sudah besar, pilih mana? Ideologi ataukah etika? Inspirasi dari Turki sepertinya berbicara ke arah etika, demikian juga jargonjargon kampanye macam “merah juga bisa jadi PKS”.
Kenyataannya, inti ketidakpuasan justru datang dari para konstituen inti macam gerakan Tarbiyah tadi. Mereka merasakan sebuah penyimpangan dalam harokah PKS. Dalam hemat saya ini mengindikasikan dua titik krusial dalam pemikiran ummat. Pertama, ternyata ummat Islam belum siap menjadi suatu ummat yang besar. Kita hanya bagus dan solid saat masih kecil saja. Mentalitas seperti inilah yang sepertinya tetap dipertahankan assabiqunal awwalun PKS. Kedua, bagaimanapun juga idealideal lama macam negara Islam, tidak akan pernah diterima masyarakat Indonesia. Ideide seperti khilafah pada akhirnya tertelan oleh dialektika massa. Sesuatu yang sayang sekali begitu dibanggabanggakan atas nama mayoritas dan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.
Sebenarnya saya bersimpati terhadap PKS karena inilah partai yang bersih dan beretika. Namun bila sistem inti dari partai ini masih belum mau merubah mentalitasnya tadi, susah dikatakan mereka mampu menjadi pemain dominan dalam membangun bangsa Indonesia.
Think Big!
April 22, 2009 pukul 6:16 am |
Ternyata setelah PKS membuka diri, hasil pemilunya juga tidak signifikan. Ini membuktikan bahwa PKS sudah mentok. Sebagian besar rakyat Indonesia adalah orang yang moderat, dan tidak terlalu terobsesi dengan syariah atau negara Islam. Saya jadi semakin yakin, kalau sekularisme (pemisahan agama dan politik) memang pilihan tepat yang telah diambil oleh founding father kita dulu.
April 27, 2009 pukul 11:56 pm |
PKS apa oientasi politik awalnya? negara islam atau kekuasaan?
inkonsisitensi ideologi yang diduga, tengah berlangsung jika diteruskan akan menjadi konflik internal yang manifest. tunggu saja.. pasti nyusul
Juni 22, 2009 pukul 12:02 pm |
PKS, , , , Pilih jusuf Kalla Saja