Gatal tangan ini, ingin sekali berpartisipasi memeriahkan ingar-bingar hasil pemilihan legislatif. Di antara banyak fenomena yang menarik perhatian komentator adalah stagnasi perolehan suara PKS.
Selama masa persiapan maupun kampanye, PKS selalu gembar-gembor akan meraup suara minimal 18%. Untuk mencapai target tersebut, PKS berulang kali pamer kekuatan. Bahkan pada perayaan ulang tahunnya, hampir semua capres hadir.
Kekuatan massa dalam “pamer kekuatan” memang sangat menakjubkan. Presentasi kehadiran bisa ribuan, dan hanya memerlukan modal yang sedikit. Maklum Partai Kantong Sendiri!
Pertanyaanya, kenapa kemudian suara yang diraup PKS justru stagnan?
Menurut analisa saya, sebagai mantan kader dan simpatisan, jawabanya adalah sebagai berikut:
1. KUNO ALIAS JADUL
Ini adalah permasalahan klasik dalam suatu keorganisasian maupun jamaah atau (apapun namanya) yang berbau Islam, yaitu mempermasalahkan “khilafiyah” atau perbedaan fiqh.
Kenapa sudah kuno?
Tentu sudah kuno, permasalahan ini sudah ada bahkan sejak Rasulullah masih ada di dunia. Permasalahan ini sudah berumur ribuan tahun. Dan telah dibahas oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya.
Tercatat ada Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Hanafi dan masih banyak lagi.
Mereka adalah orang-orang yang berkompeten di bidang tersebut, manusia yang tidak hanya hafal al-Qur’an di usia yang masih sangat belia. Tapi juga hafal ribuan hadist.
Bandingkan dengan seorang “doctor” lulusan al-Azhar Mesir, jangankan menghafal ratusan hadist. Membaca seluruh “kutub-s-sittah” mungkin juga belum tamat.
Disinilah letak utama ke-sembrono-an rekan-rekan ikhwan-akhwat PKS. Siapa sebenarnya mereka sehingga kok berani-beraninya mempermasalahkan kembali “khilafiyah”.
Kok berani-beraninya memfatwakan NU adalah gudanganya bid’ah. Melarang amalan-amalan yang menurut mereka bid’ah. Bahkan tak jarang ada yang membodoh-bodohkan seorang kyai.
Dan tak sedikit, masjid yang telah turun-temurun hidup dengan amalan-amalan ibadah, dipaksakan untuk mengikuti amalan yang bebas dari bid’ah menurut mereka
Wahai saudaraku, itu semua adalah permasalahan kuno!
Permasalahan kontemporer saat ini bagaimana anda memakmurkan rakyat dan bangsa Indonesia.
Muslim Indonesia sudah sangat bijak dalam mentolerir perbedaan-perbedaan madzhab.
Di saat konflik NU-Muhammadiyah mereda. PKS justru hadir membuka suatu permasalahan yang dulu dikonflikan NU-Muhammadiyah.
Kan sudah KUNO tau!
2. CAPER!
Ketika Israel membombardir Palestina, warga PKS beramai-ramai unjuk rasa untuk solidaritas Palestina.
Tapi kenapa PKS tidak pernak unjuk untuk solidaritas Muslim Rohingya.
Padahal mereka dizholimi lebih dari ratusan tahun, bandingkan dengan palestina yang baru 65 tahun.
Padalah bila mereka lari ke Bangladesh atau Thailand, mereka akan dinaikkan ke perahu tanpa mesin, tanpa makanan lalu dilepas ditengah lautan.
Banyak diantara mereka setelah jadi mayat terdampar di Aceh di bumi Indonesia, di depan mata orang-orang PKS.
Tapi pernahkah mereka menggalang solidaritas untuk Muslim Rohingya?. Tidak pernah!.
Karena pembantaian Muslim Rohingya tidak laku dijual.
Kalau anda masih asing dengan Muslim Rohingya silahkan tanya ke Mbah Google
3. TIDAK MENJALIN SILATURRAHMI
Sebelum pemilihan legislatif, PKS aktif melakukan lobi politik. Tapi tidak sekalipun mendatangi partai yang berbasis Islam, seperti PBB, PKNU dan PPNUI. Tanya kenapa?.
Sebagai partai dakwah, seharusnya kader-kader PKS rajin duduk bersama di kajian yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah lain.
Bukannya malah menjauhi dan menuduh “sesat” pengajian atau istigotsah yang diadakan – contoh – NU, justru seharusnya membaur.
PKS seperti mengulang kesalahan Amien Rais, capres yang katanya mewakili golongan Islam tapi tidak pernah menjalin silaturrahmi ke partai-partai Islam.
Ya jadinya kalah, kasiaan deh lu.
Tulisan bukan untuk menyudutkan PKS, tapi sebagai koreksi. Bila menampilkan perempuan tak berjilbab saja berani. Lalu kenapa bila duduk bersama mengamalkan amalan –yang bila itu menurut PKS bid’ah – tidak mau?

April 10, 2009 pukul 6:15 pm |
Tragis jika PKS betul2 berkoalisi dengan SBY bahlul si pelindung bisnis kafir, saatnya PKS merapat ke partai2 Islam lainnya yang telah mereka gembosi suaranya dan berjuang bersama mereka untuk kemshalahatan umat.
[B]Buktikan bahwa dana umat yang telah disedot untuk iklan politik PKS memang benar2 untuk kepentingan umat Islam, bukan kepentingan petinggi PKS saja, buktikan hijaumu PKS![/B]
Buat para kader, saatnya kita mawas diri dan berkaca kembali akan manuver2 petinggi PKS yang haus kekuasaan saat ini, mari kembali melayani masyarakat dalam tatanan bermasayarakat yang lebih Islami, daripada sekedar tercuci otak dan terjebak dalam permainan partai!
Tujuan kita awalnya mendukung PKS adalah untuk mengagungkan Islam, bukan untuk kepentihngan kekuasaan para petinggi partai!
>>>>>>>>>
mas tolonglah utk tidak menghina orang
karena anda juga berasal dari yang hina
April 10, 2009 pukul 10:36 pm |
yang nomer satu tuh dahsyat, setuju banget.
April 11, 2009 pukul 2:32 am |
masalah khilafiyah dalam hal fiqih itu sudah biasa di jaman rasululllah dan para sahabat, tapi khilafiyah dalam hal pokok, jelas nggak boleh!
>>>>>>>
maka dari mas….karena udah biasa…
ngapaiin coba dipermasalahkan lagi…
kan mending mikirin yang lain
April 11, 2009 pukul 7:48 am |
PKS kalah karena memang tidak pantas dipilih!!!
April 11, 2009 pukul 1:10 pm |
pks ga konsekuen dengan apa yang diusung dan digembar-gemborkan. sayang, padahal pks adalah partai yang awalnya banyak org berharap lebih
April 11, 2009 pukul 1:34 pm |
saya tuh ngertinya, pendukung pks itu fanatik dan eksklusife. citra ini sudah terbentuk. memang massa loyalnya setia dan militan banget. Tapi masa mengambang itu yah… males pilih PKS.
mbok gaul sedikit toh sama masyarakat kebanyakan.
andai saja mereka lebih merakyat
April 11, 2009 pukul 4:10 pm |
kita negara yang plural dengan beragam budaya masyarakat, partai harus bisa mengandeng semuannya… jangan bawa2 nama agama untuk politik.
April 11, 2009 pukul 6:09 pm |
suatu masukan yang yang berharga agar menjadi bahan perbaikan, bukankan lebih baik berbesar hati menerima kritikan.
April 13, 2009 pukul 8:28 am |
@ lowongan kerja, pikiran ente sempit bgt ye… udahlah soal kafir atawa bukan itu bukan urusan ente tapi urusan diatas!!! Pantes gak pernah maju, pikirannya sempit cuma tertuju untuk kaumnya aja… untung kaga menang, kasihan ntar yg gak satu haluan dizalimi persis spt israel ke palestine!
April 16, 2009 pukul 10:10 am |
jangan bertengkar antar saudara sesama muslim, pak sby selama masih muslim juga saudara kita, masa’ kita mau makan bangkai saudara sendiri???, trus klo sikap kpd non muslim selama mereka mmbayar pajak non muslim wajib dilindungi,lawan kita itu kafir yg dzolim, makanya klo ga mau kalah dngn kritenisasi maka harus semakin aktif dakwah islam (jangan saling klaim itu salah, ini salah, elo sesat, die salah, dst….), rapatkan barisan NU, Muhammadiyah, HTI, PKS, Salafi., dll….yuk bersatu.
ingat Hadist Rasulullah “kelak ummat islam jumlahnya akan banyak namun mereka seperti buih2 di lautan….” karena berbeda saja membuat kita jadi menjelekan saudara sendiri.
wis lah biarin PKS dengan jalan mereka berdakwah…dan yang lain berdakwah juga dengan cara santun.
sipp
April 16, 2009 pukul 11:19 am |
sy sudah search di google about Muslim Rohingya, pernah denger juga dalam do’a ustadz arifin ilham beberapa kali di tv, sy search di google juga fraksi PKS DPRD lampung udah bolak balik bahas itu tetapi fraksi lain ga gubris, pemerintah juga cuek…ga tau dech pemerintah itu berasal dari partai mana ya? hehe…piss
April 22, 2009 pukul 4:44 am |
Tulisan yang bagus. Saya berpendapat bahwa Islam sebagai agama mayoritas bangsa harus dipahami dalam kerangka historis dan etnisitas Indonesia yang sudah terbiasa dengan perbedaan, dialog, bahkan sinkretisme. Saya nilai PKS dan purifikasinya membuat pemahaman Islam menjadi miskin, tidak membudaya, dan tentunya jadi tidak laku. Saya tulis pendapat ini di blog saya juga. Silahkan dilihat. Terimakasih.
Mei 21, 2009 pukul 9:36 am |
dukung JK-Wiranto
lebih cepat lebih baik
hidup ekonomi rakyat
Juni 27, 2009 pukul 1:07 pm |
mah, bukannya kita juga harus menghargai mereka seperti kita mengatakan tentang perbedaan? nggak fair donk kita mengatakan harus menghargai perbedaan tapi kita tidak menghargai mereka.