Mantan politisi PDIP, aktor Sophan Sophiaan, tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Dia terjatuh dari sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya.
Nasib naas itu dialami politisi dan aktor senior itu saat mengikuti konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Konvoi ini diikuti ratusan pengendara Harley Davidson dengan rute mengelilingi Pulau Jawa. Sophan tercatat sebagai peserta dengan nomor urut 5.
Cukup sampai disitu. Selamat Jalan Bang Sophan, terima kasih untuk pengabdianmu pada bangsa dan negara.
Sekali lagi, ulah dan tingkah polah sebagian bangsa ini sungguh memalukan. Di saat harga minyak dunia melonjak naik. Di saat keprihatinan akan naiknya harga BBM dalam negeri. Malah berkonvoi dengan motor besar yang tiap liternya hanya cukup diminum beberapa liter saja.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi yang sudah mati. Tapi semoga yang menjadi saksi atas matinya dia, menjadi sadar. Bahwa mereka telah menyuguhi tontonan yang menghina kemiskinan.
Mungkin gelapnya kacamata hitam telah menutup mereka tentang rumah-rumah gedek disepanjang jalan raya Solo-Sragen-Ngawi-Madiun dan seterusnya. Karena melaju terlalu cepat, atau gengsi dong untuk mampir diwarung gedek. Mungkin anggapan mereka, ooo betapa sederhananya orang-orang ini.
Ketahuilah, percuma kalian berkonvoi melewati hutan Ngawi karena menjelang musim panas seperti ini, penduduknya telah berkonvoi duluan dengan truk. Pergi ke daerah-daerah pertanian, untuk bekerja sebagai pemanen padi. Mereka baru akan kembali bila sawah di daerah tujuan sudah habis terpanen.
Bodohnya, alasan konvoi tersebut adalah sebagai peringatan atas 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Sama sekali tidak nyambung, yang namanya bangkit adalah berdiri bukan malah duduk di kursi sebuah motor besar. Yang kemudian dengan bangga menuju bali untuk berekreasi.
Coba bayangkan bila uang digunakan untuk membeli bensin selema konvoi dikumpulkan. Atau uangĀ Kemudian disumbangkan untuk memperbaiki jalan berlubang yang telah menyebabkan jatuhnya Bang Sophan.
Itukan urusan pemerintah!. Sekarang mari kita hitung, berapa banya BBM subsidi yang dihabiskan oleh para motor besar tersebut untuk sebuah kegiatan yang katanya memperingati hari kebangkitan nasional.
Inikah tujuan kebangkitan nasional, yang sudah bangkit bebas melupakan makna nasionalisme. Lupakah mereka bahwa disepanjang jalan yang mereka lalui adalah saudara sebangsa yang tidak akan kenyang hanya melihat sebuah harley.
Percuma menulis panjang tentang segelintir penduduk Indonesia yang sedang berkonvoi tersebut. Toh semuanya juga manusia, semoga saja dengan kematian Bang Sophan mereka sadar. Bahwa jika sudah mati, dimakan cacinglah kau.


Mei 17, 2008 pukul 6:46 pm
Kapan kita mati, tak tahu kita. Tak ada skedul, tak ada daftar

Jadi, bersiap-siaplah sejak detik ini. Siapa tahu nanti, besok, atau kapan tiba giliran kita
Mei 19, 2008 pukul 8:17 am
Media Televisi pada ngga konsekuen. Habis meliput arogansi orang2 harley, sekarang malah ngga dibahas lagi. Wartawan TV memang pengecut dan cuma cari untung doang. sama aja sama orang2 harley juga ternyata.
Agustus 6, 2008 pukul 8:13 pm
Betapa bodoh penulis ini.
1. Tidak semua bangsa ini miskin, bang sophan menggugah org2 kaya yg sering lupa dengan negaranya. Bahkan lagu Indonesia Raya saja kadang lupa. Kalau anda miskin, silahkan gugah Nasionalisme org miskin. Bagi2 tugas. Bukan IRI DENGKI. Tuhan telah membagi rejaki kita beda-beda.
2. HD pakai PERTAMAX. Maaf, anda sempit pengetahuan dan berita. PERTAMAX tanpa SUBSIDI.
3. Jalur Merah Putih tidak ke BALI. Tidak ada senang2. JMP menapak tilas setiap jejak perjuangan. Rengas Dengklok, Cirebon, Dst.
4. Inilah cermin ke-bodohan bangsa kita. Mengapa kita miskin, karena Org seperti anda masih hidup.
Agustus 6, 2008 pukul 8:22 pm
Kemiskinan membuat anda gelap mata dan mati nurani. Iri dengki adalah hatimu. Negatif tingking isi otakmu.
Andai kau kenal bang Sophan, kau akan menyesal berkata demikian sampai ke liang lahatmu bertemu denganya.
Saya lah org yg sadar selama ini sy sedikit melupakan bangsa ini. Pertama kalinya saya sejak bertahun2 tidak mengingat Indonesia Raya. dan betapa Bang Sophan menyadarkan pengusaha2 besar yg disinggahinya untuk INGAT kepada negri ini. Itu jalan dan cara beliau.