ML (17+), Tidak Seharusnya Dicekal

Entah apa jadinya jika Indonesia tanpa Lembaga Sensor Film (LSF). Setelah LSF selamat dari ancaman penghapusan oleh para sineas muda yang dimotori oleh Masyarakat Film Indonesia. Kini LSF kembali disorot lewat sepak terjangnya menendang ML, sebuah film yang bukan porno kata sutradaranya.

Manusia itu makhluk yang berpakaian, sehingga kurang tertarik pada ketelanjangan. Jadi jangan heran kalau ada kontes anjing atau kucing yang pesertanya mirip manusia. Oleh karena itu gairah manusia tertantang jika melihat sebuah tubuh yang bersembunyi dibalik baju yang kekurangan kain.

Apalah enaknya melihat segelontor daging mentah tersaji di depan mata. Hambar karena tanpa rasa ada penasaran, sebagaimana daging yang kurang garam. Malah kadang menjijikan, memalukan pamer kemaluan. Sombong kok pada yang punya!

Bila memang tak mau disebut sex education, ML justru mendorong pada sex experimen. Mendorong rasa penasaran penonton untuk mencoba dan melihat apa to yang ada dibalik kain tipis itu. Tak perlu lama, karena menontonya malam minggu. Mumpung besok libur, sekalian melepas penat UN. Sekalian aja ……..

Dasar kapitalis, di sinilah pintarnya Shankeer memilih momen tepat untuk meluncurkan film. Di saat anak SMA sedang penat karena UN, tentu tak apalah jika mereka diberi sedikit “pelajaran” siap praktek yang enak. Sekaligus refreshing!.

ML justru tidak menghkawatirkan kalau kisahnya terus terang, apa adanya seperti skandal Eva Maria. Jujur, terus terang, gak perlu munafik, gak perlu maksud tersembunyi. Toh secara ekonomis, biaya pembuatan filmnya lebih murah, tanpa promosi besar-besaran dan dijamin ngetop.

Bilamana ML benar merupakan fenomena yang ada di masyarakat. Biarkanlah dia menjadi rahasia umum. Gak perlu disebarkan, sehingga merangsang masyarakat lain untuk mencoba. Yang sebelumnya tidak tahu menjadi pelaku dan akhirnya membudaya. Toh masyarakat Indonesia sudah lebih paham tentang esek-esek, karena sudah terdidik dengan adanya lokalisasi di setiap kota.

ML memang tidak seharusnya dicekal apalagi disensor, karena memang tak pantas dibuat. Seluruh yang terlibat dalam film ini, tentulah masa kecilnya kurang bahagia. Setidaknya tidak pernah melihat film kartun Tom&Jerry. Sehingga tidak pernah tahu betapa malunya Tom jika bulunya tercukur habis dari tubuhnya. Atau memang mereka-mereka itu gak punya kemaluan? Entahlah!.

3 Tanggapan ke “ML (17+), Tidak Seharusnya Dicekal”

  1. namakuananda Berkata:

    friend, asyik juga tulisannya. aku lebih tertarik kalimat terakhir. Entahlah!
    Sekalian nyoba bakmi gontornya, boleh donk :-)

  2. azaxs Berkata:

    haha… kalimat terkahir keras banget mas.. langsung menohok.. seperti popeye memukul brutus selesai makan bayam..

    Idem aja deh..

    kaif-l hal?

  3. natazya Berkata:

    memang seharusnya tanpa punya kreatifitas dan kesadaran tidak perlu berkarya yang tujuannya buat bersama

    sama sekali tidak tertarik buat menonton bahkan bila di posternya dipajang yang telanjang

Tinggalkan Balasan