Penyakit Alumni Gontor

Perkembangan virus PKB (Perpecahan Keluarga Besar) semakin dahsyat, tingkat kekritisan juga semakin meningkat. Terbaring tak berdaya di ruang unit gawat darurat (UGD). Sembari terus mengigau tentang penyebab penyakitnya dan mengumpat orang-orang terdekatnya karena telah lalai merawat.

Penyakit yang sebenarnya tidak menular itu kemudian bermutasi menjadi menular. Langsung tepat kepada objek yang sedang menjenguk karena prihatin, langsung tanpa kontak langsung. Beberapa yang sehat kemudian ikut menyusul sakit bahkan lebih kronis sampai mendekati maut, suul khatimah.

Si sakit terus menuduh sang bapak yang salah karena telah salah asuh dan mewariskan penyakit turunan. Meski telah dibantah oleh rekaman riwayat medis dan klinis si bapak. Riwayat antroplogis-historis-sosiologis-psikologis juga mengatakan bahwa sang bapak baik-baik saja.

Salah seorang anak kemudian menjadi geram dan berharap sudaranya bangun dan sadar. “Hei nak, dengarkan”. Buka matamu dan lihatlah kembali ke masa-masa lalumu ketika kamu keluar dari rumah dengan bangga karena nama bapakmu dan sebuah kunci. “Ingat!, hanya kunci”, demikian penegasan bapakmu waktu itu.

Sebuah kunci ajaib yang dengannya bisa kamu buka apa saja. Tapi sayang kunci itu kamu gunakan hanya untuk membuka pintu kenangan masa lalu. Mengulang kenangan dengan kawan-kawanmu disebuah kontrakan. Untuk kemudian secara bersama-sama membuka dan menikmati pintu-pintu yang dulu terlarang.

Waktumu kemudian habis hanya untuk mengulang kenangan, menikmati hal-hal terlarang secara berjamaah. Jadilah kuncimu tadi tumpul dan karatan. Bila kemudian kuncimu patah, lalu kemudian apa hak kamu menyalahkan bapak.

Demikianlah situasi kondisi terbanyak dari alumni Gontor dewasa ini. Mereka keluar dari Pondok untuk balas dendam secara berjamaah, melakukan apa yang dulu dilarang. Menguasai sebuah kompleks kos bahkan  melarang bapak kos menerima anak kos baru selain alumni Gontor. Berdalih mengamalkan doktrin, bukan Gontor yang harus “dikos kan” tapi kos-kosan lah yang harus di-Gontor-kan.

Jadilah wisma Gontor terselubung itu menjadi lokalisasi gelap. Amalan-amalan sesat yang dulu dilarang di Gontor diamalkan. Karena kekuatan berjamaah, lahirlah sebuah geng yang menghalalkan apapun. Pengalaman belajar sampai larut malam, digunakan mereka untuk menjadi manusia hidup di malam hari dan kelelawar tidur di siang hari.

Akhirnya, terpecahkanlah rekor-rekor fantastis di dunia akademik. Gelar sarjana al-Azhar, berhasil diraih dalam kurun waktu 10 tahun. Sebuah organisai kebatinan ke-alumni-an, berhasil memenangkan seorang calon mengalahkan HMI, PMII, KAMMI dalam sebuah perebutan kekuasaan kampus. Padahal isi rapat pemenangan hanya makan di nampan bersama.

Bila kemudian patahan kunci yang karatan tersebut terinjak kaki, menimbulkan infeksi hingga amputasi. Lalu apa salah bapak bila kamu jadi buntung karenanya?. Toh bapak juga gak pernah minta uang saku.

“Bila memang bapakmu ini sudah tak pantas ditaati dan tak layak lagi jadi bapakmu….lepaskan nama bapak dari namamu….bapak ikhlas”. Kalau perlu, robek saja akta kelahiran yang dulu bapak buatkan untukmu.

2 Tanggapan ke “Penyakit Alumni Gontor”

  1. asmuni marzuki Berkata:

    Potret ALumni Gontor
    Saya bangga dan bersyukur menjadi bagian dari orang yang pernah nyantri di PM Gontor, alumni-alumni berhasil diberbagai bidang dan profesi. Beberapa tahun yang lalu saya masuk UIN yang didalamnya banyak alumni gontor, begitu terasa persahabatan antar alumni bahkan dengan angkatan lain. Prestasi yang diraih oleh para alumni tidak diragukan lagi, bahkan dunia pun memuji.
    Sayangnya, ada diantara alumninya yang rela melepas kesantriannya demi mencari dunia, sok liberalis, dan sok mu’tazilah.
    Dunia yang fana ini jelas bukan jadi tujuan kita, tapi jadi jalan kita menuju ridha Allah.
    Sedih, melihat alumni kita ada yang sudah berani meninggalkan shalat, membela kaum sekuler, dan menjadi agen pemikiran asing.
    Mana jiwa keislaman yang kita agungkan selama ini

  2. Para Pencari Tuhan Berkata:

    Assalamu’alaikum Saudaraku…….
    Moga kita lebih baik dari kemarin,tidak ada yang mustahil bagi Allah…
    Bagi teman-teman yang masih senang melanggar perintah Allah,Marilah kita sama-sama beranjak bangun dari keburukan kita….
    Bagi teman-teman yang tidak sholat lagi,marilah bangun u/ mengambil air wudhu’…..
    Bagi teman-teman yang masih suka minum-minuman keras,mari kita tinggalkan hal tersebut…
    Bagi teman-teman yang malu dianggap santri,ustadzatau orang baik…….Mari renungkan kembali hal ini…….Dan jawablah pertanyaan2 ini dengan hati kecilmu….
    Mana yang lebih manusia sukai……Orang yang baik budi pekertinya atau pemabuk yang suka judi dan pembuat onar ????
    Mana yang lebih orang tua kita sukai…..Anak’x menjadi Pejabat yang baik atau penjahat ????
    Mana yang lebih kita sukai u/ menjadi pendamping hidup kita….Wanita pendusta atau Wanita Sholehah yang baik budi pekertinya ?????
    Insy4llah hati kecil kita akan memilih yang baik-baik karena itu adalah fitrah yang kita bawa sedari kecil.
    Maka,Janganlah malu dinggap ORANG BAIK
    Marilah kita saling nasihat-menasihati dalam hal kebaikan.

    Wallahu A’lam Bissowab

Tinggalkan Balasan