Memasuki pemilu 2009, Perpecahan Keluarga Besar (PKB) tidak hanya menyerang pada partai-partai politik. Tapi juga sebuah pondok yang sejak lahir selalu menjaga independensi dari dunia politik juga ikut tertular. Persatuan Alumni Gontor (PAGON), demikianlah nama kubu baru yang mencoba untuk mengayomi dan memersatukan alumni Gontor.
Secara de facto, mengaku atau tidak, PAGON adalah sempalan dari Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) sebagai satu-satunya wadah bagi ribuan alumni Gontor. Ada banyak alasan dan retorika yang melatarbelakangi berdirinya PAGON. Tidak perlu diulas secara berkepanjangan, karena inti dari semua alasan sudah pasti adalah sakit hati atau kecewa.
Entah kecewa yang mana, karena tidak terpilih dalam kepungurusan IKPM Cabang?, atau merasa dianaktirikan. Atau justru motivasi di balik PAGON adalah untuk melepaskan diri dari hukum adat Gontor yang selama ini membelenggu IKPM. Untuk kemudian biar bisa bebas lepas sesuai dengan apa kata nafsu. Apalagi secara geografis-bisnis-politis tempat lahir PAGON yang berada di DKI Jakarta sangat menggiurkan.
Kehadiran Abu Bakar Ba’asyir dalam acara deklarasi mungkin menampik bahwa tujuan PAGON adalah seperti tersebut di atas. Sosok Ba’asyir fakta dari seorang alumni Gontor yang diasingkan. Sebagai alumni Gontor, dia sama sekali tidak mendapatkan sedikit respon atau pembelaan selama di dzolimi rezim pemerintahan. Padahal dia menamatkan sampai habis setiap kelas di Gontor.
Bandingkan dengan Emha Ainun Nadjib yang tidak pernah menamatkan pendidikanya di Gontor, karena terusir. Tapi perhatian Gontor kepadanya justru lebih sayang dibandingkan kepada Ba’asyir. Emha sendiri pernah mengkritik hal ini meski hanya di Jombang. Tapi di suatu kesempatan, di hadapan ribuan santri. Emha juga pernah menyindir keberadaan penghuni Gontor yang telah kebesaran baju dan celananya sehingga susah berjalan.
Sebagai saudara seperguruan, pertarungan antara IKPM dan PAGON ini berpotensi menjadi abadi. Karena setiap pihak telah dibekali jurus-jurus andalan, ajian pamungkas sampai senjata rahasia yang sama dan saling mengetahui. Oleh karenanya kedua pendekar harus duduk bersama melepas semua atribut dan kalau perlu, makan senampan mie Gontor bersama, bernostalgia. Agar bangkit kenangan pada “Ibu”, yang hanya untuk memanggilnya saja harus latihan selama tujuh hari.
Ibu yang telah melahirkan keduanya, yang maknanya adalah garis satu keluarga, kakak dan adik. Maka IKPM sebagai kakak harus melepaskan atribut “The King Can Do No Wrong”, harus berani melakukan koreksi dan dikoreksi sebagaimana pada praktek mengajar di Gontor. Sedangkan sang adik harus membawa sifat bahwa menghormati yang tua, menyayangi yang sebaya dan mencintai yang kecil adalah ciri seorang Muslim.
Kemudian semua harus dikembalikan kepada “al-mukhafadzotu alal qodimi shalih wal-akhdu bil jadidi aslah” (Memelihara yang lama itu baik, tapi mengambil inisiatif baru lebih baik). Dan menyadari bahwa agama, bangsa dan negara sedang menanti kontibusi nyata dari Gontor. Bukan kontribusi konflik yang akan semakin nambah bingung umat Indonesia. Bismillah, wAllahu a’alamu bi aqwami thoriq.

April 29, 2008 pukul 4:59 pm |
PRO KONTRA DEKLARASI PAGON
Tanggal 26 April 2008 dua hari yang lalu telah di deklarasikan sebuah organisasi baru bernama PAGON (Persatuan Alumni Gontor). Kemunculan organisasi ini sangat mengejutkan berbagai kalangan alumnus Gontor. Ada yang pro dan yang kontra.
Gontor adalah lembaga pendidikan Besar yang mencetak orang-orang besar. Tak heran bila saat ini banyak orang mengatakan, bahwa ini adalah era anak Gontor. Terbukti dengan tampilnya putra-putra terbaik Gontor di kancah kepemimpinan Nasional. Inilah yang saya lihat alasan yang melatar belakangi munculnya beberapa organisasi di balik naungan nama besar Gontor, termasuk diantaranya PAGON.
Ada sekelompok anak-anak muda yang masih memiliki idealisme tinggi di dalam PAGON, mereka ingin besar seperti saudara-saudaranya yang lain di belantara Negeri ini. Seperti Hidayat dengan PKS nya, Hasyim dengan NU nya, Din dengan Muhammadiyahnya dan lain sebagainya.
Hanya saja bedanya, mereka tetap mengusung nama Gontor sebagai simbul identitasnya, sehingga dikhawatirkan dengan identitas Gontor ini berdampak tidak baik terhadap almamater. “Kan sudah ada IKPM kalau mau tetap bernaung di bawah Panji Gontor ?” Itu anggapan mereka yang merasa cukup dengan IKPM sebagai wadah silaturahmi. Tapi anak-anak muda yang masih memiliki semangat idealisme tinggi, tak akan pernah merasa cukup. Bagi mereka Gontor adalah segalanya. Syukurlah kalau mereka masih memiliki sikap empati dan fanatik terhadap Almamaternya.
Marilah kita tundukkan sejenak emosi kita, untuk melihat masalah ini secara jernih, obyektif dan tidak mengarah pada perpecahan antara alumni. IKPM adalah organisasi struktural yang mewadahi semangat silaturahmi alumni. Dari IKPM lah pula kita memiliki solidaritas alumni yang sangat kuat. Tak perduli beda angkatan, tak pandang asal daerah, golongan dan suku. IKPM telah melahirkan sebuah ukhuwah Gontoriah yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain.
Sementara munculnya organisasi-organisasi lain di luar IKPM, seperti PAGON, APELGO, ALIAGO, IKMAGONTA dan lain sebagainya, tidak akan pernah menjadi pesaing IKPM, bahkan tak akan memiliki resistensi yang mengancam eksistensi IKPM sebagai organisasi induk semang. Karena siapapun yang berada dalam organisasi tersebut tetap menganggap dirinya sebagai alumni dan IKPM adalah wadah yang tepat untuk merajut kembali jejering silaturahmi.
IKPM adalah organisasi alumni secara struktural, dan yang lain bisa menjadi kekuatan kultural. Kita sama-sama ingat, kenapa Soekarnto menjadi kuat ? Karena beliau mampu membangun kekuatan strukturalnya yaitu PNI sebagai organisasi Politik dan menyandingkannya dengan kekuatan kultural dalam hal ini adalah NASAKOM sebagai kekuatan diluar politik yang lebih berbasis pada sosial dan budaya. Suharto pun juga demikian, beliau mampu mengintegrasikan kekuatan Stuktural dengan Kultural yaitu Golkar, TNI, Korpri dan lainnya.
Kita berharap, IKPM tetap eksist, meski harus lahir embrio-embrio baru yang tetap kita harapkan bisa bersinergi. Sebagaimana terjadi selama ini, bahwa di luar IKPM sebagai organisasi resmi alaumni Gontor, telah muncul juga oranisasi profesi yang lain seperti “Ikatan Pengusaha Alumni, Ikatan Kyai Alumni dan lain sebagainya. Diharapkan agar munculnya organisasi-organisasi di luar IKPM, bisa memberi kontribusi kepada Pondok Modern dan secara eksplisit lebih bisa mewadahi kepentingan alumni sesuai dengan kebutuhan dan profesi. Sementara IKPM bersifat lebih universal bahkan bisa menjadi universitas universalitas para alumni Pondok Modern Gontor.
Salam,
Imam Muharror
(Ketua IKPM Jogja/Pendiri IKMAGONTA)
——————————————————————————–
Drs. Imam Muharror
Ketua IKPM Jogja
April 30, 2008 pukul 8:01 am |
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan pasangan bahkan “musuh” agar hidupnya menjadi semakin hidup…
Ketunggalan adalah kesalahan besar, karena akan melahirkan kekuasaan yang absolut. Tuhan saja tidak menghendaki hambanya berada dalam sebuah “ketunggalan”
Mei 2, 2008 pukul 1:56 pm |
He he he ente ini bikin hati mak nyess. Piye Zon anak-anak sehat kan ? Semoga apik-apik wae yo. Aku kangen ma ente. Kapan makan bareng lagi di Jogja ?
Mei 5, 2008 pukul 8:53 am |
yagn jelas dibalik itu semua ada keinginan dan kekcewaan. kalo mau sukses ya mbok pake jalan yagn bener, jangan ndompleng, jagnan pake cara instan. pragmatis itu salah!
iya tho prennn..
ente alumni taun piro rek?
Mei 31, 2008 pukul 4:18 pm |
JANGAN BERLEBIHAN NANTI KELEBIHAN
Kurang tepat rasanya bila sekaliber Pimpinan Pondok Gontor terlalu berlebihan menanggapi munculnya Pagon, hanya karena alasan klasik –tendensi politik, kepentingan kelompok dan dimanfaatkan sekelompok tertentu– dan akhirnya membawa dampak buruk terhadap Gontor. Gontor terlalu besar untuk tidak bicara sesuatu yang kecil dan sepele, justru sikap-sikap seperti itu sangat menguntungkan Pagon, sebagai promo gratis dan menghantarkannya menjadi sebuah organisasi yang segera tumbuh besar, karena harus berlawanan dengan sesuatu yang besar.
Bagi teman-teman Pagon sendiri, seharusnya membuktikan, bahwa kekhawatiran Pimpinan Pondok Gontor justru melahirkan motivasi dan banyak hal positif. Tidak perlu disikapi secara destruktif. Bahkan kalau perlu, tunjukkan bahwa Pagon bisa memberi kontribusi yang lebih dari sekedar apa yang bisa dilakukan oleh IKPM terhadap Gontor dan alumninnya. Selesai sudah kekhawatiran Pimpinan PMG kalau ternyata apa yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi.
Sementara PP. IKPM tidak perlu membekukan IKPM Jakarta dan mencabut kembali meski ibarat menelan kapsul yang sangat pahit, karena itu hanya akan merusak image PP. IKPM sendiri dan yang lebih parah keputusan itu akan mengakibatkan pudarnya tali silaturrahmi antar alumni. Disadari atau tidak, tanpa IKPM pun sebenarnya alumni Gontor akan selalu ngumpul dalam banyak hal dan kesempatan. Karena virus tajamu’ yang belum diketemukan imun nya sudah terlanjur mewabah pada para alumni Gontor semenjak masih nyantri.
Masih banyak hal-hal penting yang mesti dipikirkan, seperti bagaimana kita harus menyelamatkan beberapa Pondok Alumni yang mulai kehilangan ruhnya dan bagaimana merancang pergerakan masyarakat santri yang harus dimulai dari Gontor dengan berjuta Alumninya serta membangun negeri tercinta ini agar lebih baik dari Gontor. Mari kita tunjukkan, bahwa missi Gontor sebagai perekat ummat bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di segala penjuru negeri ini. Bukan benih-benih perpecahan dan saling jegal yang kita tanamkan.
LEGOWO, itulah barang kali solusi dari falsafah hidup yang mulai tercerabut dalam akar tradisi dan budaya kita. Ternyata tidak hanya orang gagal yang sulit untuk berbuat ikhlas, tapi banyak orang sukses yang tidak ikhlas akan kesuksesannya. Kalau orang miskin tak ikhlas dengan kemiskinan dan ketidak adilan pemerataan rizqi itu hal yang wajar, tetapi orang kaya yang mulai kehilangan rasa ikhlasnya sangatlah berbahaya. Semoga azas dan motto keikhlasan yang ditanamkan oleh pendiri PM. Gontor tetap tumbuh subur dikalangan para Pimpinan, Santri, Alumni dan masyarakat gontorian, sehingga kita bisa berfikir yang lebih positif dan global. Tentunya jangan sampai berlebihan karena nanti akan kelebihan.
Imam Muharror
Ketua IKPM Jogja
Juni 1, 2008 pukul 5:11 am |
adanya PAGON ataupun IKPM keduanya merupakan repleksi dari dinamika demokratis pemikiran yang telah menyatu pada diri setiap alumni gontor, hal itu sudah menjadi pedoman dalam panca jiwa pondok yaitu ” berpikir bebas”. situasi ini saya kira bukanlah sebuah musibah, tapi merupakan kemajuan bagi setiap alumni, keduanya dapat berjalan bersama dengan tujuan membesarkan pondok dan bukan ambisi pribadi yang didasarkan atas kekecawaan ataupun hal negatif lainnya. kita sebagai alumni jangan mengompori situasi ini dari harus sama sama mendukung bahkan mengingatkan bila keduanya “bentrok”. oleh karenanya dengan berpegang kepada prinsip “i’ malu ala makanatikum” setiap alumni bebas berekpresi dalam hal positif demi izzul gontor itu sendiri
Juni 6, 2008 pukul 2:42 am |
Banyak orang mengaku muslim tapi akhlaknya tidak muslim
Banyak orang mengaku islam tapi sangat jauh dari cahaya islam.
saya berharap para alumni gontor dapat merenungi kata-kata berikmah di atas, jng lupa bahwa kita para alumni sebagai perekat umat.
belajarlah yang rajin demi kemajuan Agama dan negara serta kedamaian dunia
Juni 18, 2008 pukul 12:12 pm |
Partai sangat rentan sebagai alat yang dapat digunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk di adu domba dengan partai lain. Apaladi sebagai perekat ummat yang seyogianya berpihak kepada seluruh golongan , almuhim zalik ….
Juni 27, 2009 pukul 1:52 pm |
saya pikir kurang fair hanya membandingkan emha dan abu bakar baasyir. lagian, pengakuan terhadap emha, dan alumni lain saya pikir tidak de jure. IKPM sendiri, juga bukan de facto sebagai pengikat alumni. toh, marhalah kita secara de facto juga punya sendiri, namanya 621 hehehe…
Juli 11, 2009 pukul 10:52 pm |
621 gak ketularan PKB kan?!