Tak perlu saya sebutkan tanggal berapa dan bulan apa. Dan tak penting apakah forum tersebut formal atau hanya makan-makan, ataukah orang yang mengapit anda adalah ketua MPR dan Duta Besar RI.
Terserah mau sama atau tidak setidaknya inilah yang anda ucapkan:
“….bahwa prosentase TKW yang “gagal” dan yang sukses itu lebih banyak yang sukses. Yang gagal itu hanya 1-4% persen saja. Kalau anda pergi ke daerah yang menjadi basis TKW, anda akan menemui desa yang seperti kota. Rumahnya bagus, sawahnya luas, punya motor bahkan mobil”
Wahai Pak Din Syamsuddin, bagaimana bila anda menghadapi seperti ini?.
Seorang TKW, berumur sekitar 36 tahun datang ke kantor Polisi sambil menangis. Tanpa membawa paspor, nomor telepon majikan, bahkan nama lengkap majikan pun tak tahu. Jangankan alamat KBRI Doha, alamat rumah majikan pun dia tahu. Sedang dia juga belum melaporkan kedatanganya di KBRI. Beruntung dia bertemu dengan sopir taksi yang baik yang bersedia mengantar ke kantor polisi tanpa memerkosanya.
Sekarang dia dihadapan anda, hanya bisa menangis karena sama sekali tidak paham bahasa Arab apalagi Inggris. Tangisanya semakin keras, setiap kali polisi Arab membentaknya karena jengkel dan bingung menghadapi bahasa Indonesia.
Buka hati dan mari bayangkan. Bagaimana seandainya dia adalah Istri anda?, atau Ibu anda?. Ingatlah!
Berapapun persen dari total TKW yang anda sebut “gagal”. Mereka tetaplah manusia biasa, istri dari seorang suami, ibu dari anak-anak. Masalah seperti itu bukan satu atau dua kali, tak perlu saya hitungkan karena pengalaman anda di Depnakertrans tentu sudah memberi tahu anda.

April 26, 2008 pukul 5:36 am
Pertamax… Salam kenal om.
Ini cerita tentang TKWnya kisah nyata kah om? Atau cuma imajinasi aja? Om Din Syamsudin kan emang orangnya dari dulu gitu. Cuex bebek. Cuma mentingin diri sendiri ama kelompok. Nggak pernah tuh beliau bisa memberikan jalan tengah terhadap suatu masalah. Bisanya cuma ngomong dan ngomongnya nggak gue banget
penyaji mie:
semua adalah kisah nyata
karena kebetulan profesi saya adalah sebagai penerjemah di Kepolisian Doha
terima kasih sudah memberikan perhatian terhdp nasib pahlawan devisa.
Juni 2, 2008 pukul 8:46 pm
Setuju dengan anda mas penyaji bakmie….!! pak din syamsudin nggak ngerasain kali.. (buat pak din : “Pak.. makanya bapak jgn cuma duduk di kursi aja dooooonnnkkk…!!! ngomong se enak nya udel aja..!!! anda pikir anda ini siapa..?? Tuhan…??? “)
Mas penyaji bakmie..
artikel anda bagus bagus looohh… “Salut buat anda… teruslah menulis ya mas dan berikan informasi yang benar.. aku akan jadi pelanggang setia bakmie mu…”
Salam persahabatan…