Fahri, Ta’aruf itu Salah?

Masalah percintaan lagi, emang dasar anak muda. Tulisan ini dibuat bukan karena dasar keputus asaan atau karena ngiri dengan Fahri yang kok begitu mudah menikah. Begitu ada niat menikah, telpon ibunda langsung dapet tiga lagi. Biarkan si Fahri tetap hidup karena memang dia hanya imajinasi.

Permasalahan sekarang adalah kenapa seorang anak manusia ada yang begitu mudah mendapat jodoh dan ada yang susah. Konteksnya adalah jodoh bukan pacar. Kalau pacar siapapun pasti bisa dapet asal ngebet dan mepet.

Perkara jodoh menjadi susah karena zaman telah kebalik. Paradigma zaman edan saat ini adalah anak mencarikan besan buat orang tuanya. Bukan orang tua yang mencari menantu buat anaknya. Jadinya, PDKT justru dirasakan oleh dua pasangan orang tua, dan kemesraan karena pernikahaan bukan lagi milik pasangan yang menikah. Jadi yang menikah sopo?

Sungguh Beruntung bagi sosok seperti Fahri yang dikerumuni gadis siap sunting tanpa mikir paradigma di atas. Karena Aisha anak yatim tak punya Ibu, Maria juga tak punya bapak dan Orang tua Nurul juga jauh di Indonesia. Jadi Fahri tak perlu repot-repot sowan ke calon ibu mertua atau bapak mertua untuk dita’arufkan dengan ibu-bapaknya.

Bila Fahri ada dalam dunia nyata, tentu tak akan semudah itu dia bisa memiliki kesempatan menikahi tiga gadis. Kalaupun ada, belum tentu dia dapat restu dari semua calon mertua hanya bermodalkan cinta. Hanya dengan proses ta’aruf dengan mak Comblang.

Apakah kemudian proses ta’aruf seperi Fahri perlu diteladani?, tidak bagi saya. Baca kembali novelnya, tentang seorang Fahri yang membayangkan betapa cantiknya Aisha seperti bidadari setelah ta’aruf. Apakah kemudian sampai dibawa ke mimpi. Semoga Pak Hidayat tidak terganggu tidurnya karena cantiknya calon istrinya.

Tanpa orang tua, tak akan pernah ada lahir seorang pemuda. Orang tua tentu yang melahirkan sampai yang membesarkan seorang anak. Tahu bagaimana anaknya. Pengalaman menjadi seorang istri telah mengajarkan bagaimana kriteria suami yang ideal, begitupun juga suami mengenai istri yang ideal. Masalah cantik, biarkan masa pemudanya Bapak yang menilai. Dan kriteria keibuan, tentu ibu  yang lebih tahu.

Lha klo pemuda macem saya, tentu nafsu yang kupakai. Dan calon mertua pun akan bertanya, apa dan siapa saya. Dengan kemungkinan ditolak karena tidak kenal 90%. Digantung untuk diselidiki lebih lanjut 2%. Sedangkan kemungkinan selebihnya adalah karena dianggap tamu, jadi ya tetap dipersilahkan minum teh. Bukan pengalaman pribadi.

Tinggalkan Balasan